Chapter 42 - #NAIK MOBIL SAYUR
Siang itu saat pulang sekolah seperti biasa saya dan genk saya selalu bersama sama menuju rumah. Kami tinggal di lingkungan yang sama. Jarak rumah dengan tempat kami sekolah tak begitu jauh. Kadang kami naik sepeda dan lebih intens berjalan kaki. Sensasinya juga lebih menantang saat berjalan kaki. Karena banyak hal yang terjadi bila berjalan kaki.
Sesampainya di depan kantor pos, tiba-tiba salah satu teman saya memanggil mobil angkutan yang biasa mengangkut para pedagang yang berjualan di pasar. Kami menyebutnya mobil sayur. Saya pun kaget. Karena uang saku sudah habis. Tapi saya tak ambil pusing. Saya pun mengikuti konsep traveling dari teman saya ini. Kami bertiga akhirnya naik mobil sayur yang di mana penumpangnya cuma kami bertiga dan seorang kernet duduk di belakang.
Ketika sudah sampai di depan lingkungan perumahan kami, dua teman saya lari terbirit-birit. Saya yang masih tak mengerti akhirnya juga ikut turun dan mencoba lari. Tapi ternyata tangan saya sudah di pegang oleh sang kernet.
“Bentar, saya mau ambil uang untuk bayar,” jawab saya. Kernet pun melepas tangan saya dan saya pun kabur. Saya pun mengejar teman saya yang tertawa terbahak-bahak sambil meledek kernet mobil sayur. “Awas kamu, ya,” kata si kernet sambil mengepalkan tangan.
Biaya naik mobil sayur itu sekitar seratus rupiah. Tapi saat itu uang saku sudah habis. Saya sempat memarahi teman-teman saya
yang tidak memberitau dari awal rencana mereka. Saya tidak tau- menau kalau mereka berdua sudah briefing untuk mengatur strategi.