Chapter 43 - #BEBEK PANGGANG
Pagi itu saya datang ke rumah teman saya untuk memenuhi undangannya yang di mana semalam ia mengabari saya kalau pagi ini kita akan pergi untuk survey lokasi di daerah Cakra. Saya pun sangat antusias.
“Tunggu sebentar ya, saya mandi dulu. Kamu sarapan aja
dulu. Makanan sudah tersedia di meja makan.”
Tanpa basa-basi saya langsung menuju ruang makan yang di mana lokasinya sudah saya hafal meski tutup mata. Di sana sudah tersaji ayam goreng bumbu matah, tahu tempe, sayur sawi dan satu ekor bebek panggang. Saya pun memilih bebek panggang yang di mana agak jarang saya santap apalagi dalam keadaan utuh satu ekor. Bumbu kuningnya sungguh menggoda. Nasi setengah piring.
Usai saya menyantap bebek panggang, tiba-tiba ibunya teman saya ini datang. Ia langsung menanyakan soal bebek panggang. Saya yang lagi asyik merokok seusai melahap habis bebek panggang seketika menjadi mual saat tau kalau ternyata bebek panggang itu mau dibawa ke kantor ibunya teman saya. Ibunya teman saya ini beberapa kali menanyakan posisi bebek panggangnya di mana. Saya langsung menghampiri teman saya yang baru keluar dari kamar mandi sambil memberikan kode agar ia tak bilang kalau sayalah pelaku dari sirnanya bebek panggang itu. Untunglah teman saya ini pengertian. Ia dengan sigap mengatakan kalau bebek panggangnya
di makan kucing. Namun ibunya tak begitu saja percaya. Ia sempat melirik kearah saya. Mungkin dia curiga karena mulut saya berminyak dan kepedasan.
Tulang belulang dari si bebek panggang saya ambil di tong sampah lalu saya hamburkan ke dekat anjingnya. Lalu saya memanggil teman saya untuk membuktikan kalau anjing itulah pelaku tunggal dari lenyapnya bebek panggang yang malang itu. Teman saya pura-pura histeris dan memarahi anjingnya. Ibunya teman saya pun ikut memarahi anjingnya. Namun yang justru menjadi sasaran adalah asisten rumah tangganya yang lagi keluar untuk membeli sampo. Namun si asisten rumah tangga tetap tak yakin kalau pelakunya adalah anjing. Karena tak ada sejarahnya anjing peliharaannya itu berani naik ke meja makan. Kalau kucing kemungkinan iya. Jawab si asisten rumah tangga yang juga menaruh curiga ke saya. Ibunya teman saya lalu menyuruh si asisten rumah tangga untuk membeli lagi bebek panggang ke pasar.
Saya dan teman saya lalu pergi naik mobil. Sepanjang
perjalanan teman saya juga merasa tak enak dengan saya. Ia juga tak tau kalau ada bebek panggang dan bebek itu ternyata mau dibawa ke kantor ibunya.
Ibunya teman saya dan asistennya sudah tau siapa pelakunya. Pagi itu saya merasa bersalah dan berdosa pada teman saya, pada ibunya, pada asistennya dan kepada anjing yang saya fitnah. ☹
Madvox Anjink!