Chapter 37 - #MINUM TOLAK ANGIN
Tahun 2019 saya kembali tour ke Jawa dalam rangkaian Nineteen Tweenty Tour 2019, meliputi beberapa Kota. Waktu itu saya dari Jogja menuju Surabaya. Di dalam kereta sudah banyak penumpang yang duduk. Ketika saya melihat tiket, nomor duduk saya ternyata bersebelahan dengan wanita-wanita cantik. Dalam hati saya berkata, “inikah yang disebut dengan rejeki nomplok?”
Empat orang wanita mengelilingi saya. Saya pun sempat grogi. Dan mereka sepertinya dan memang ketakutan dengan saya. Awalnya mereka ceria dengan penuh canda tawa. Namun begitu saya duduk di antara mereka, mereka pun langsung terdiam. Saya merasa bersalah. Ingin rasanya turun dari kereta yang sedang melaju. Tapi tidak mungkin. Ah, nggak segitunya juga, sih. Saya yang kurang tidur dan cepat masuk angin, lalu mengambil Tolak Angin dari saku celana saya yang sudah saya siapkan selama Tour. Begitu saya menenggak Tolak Angin, mereka pun lalu tertawa dan tersenyum.
“Kenapa, mbak?” tanya saya yang memberanikan diri untuk
memulai percakapan.
“Habisan, mas e…tattooan minumnya Tolak Angin,” jawab salah seorang dari mereka. Dan dari situlah percakapan demi percakapan dimulai. Ternyata mereka semua berasal dari Madiun.
“Mbak, Kota Madiun itu kota Gadis, ya? Berarti banyak gadis cantik, dong!” tanya saya dengan antusias.
“Ow, maksudnya Gadis itu, Perdagangan dan Industri, mas.” “Oaalllaaaa…. Saya pikir…banyak wanita cantik.”
“Pecel Madiun enak, ya, mbak? Saya penggemar pecel
Madiun.”
“Aduuh…mas ini. Penampilan sangar, hobinya makan pecel,
minum Tolak Angin pula.”
“Namanya juga manusia, mbak,” jawab saya.
Tak terasa kereta sudah tiba di Madiun. Ada rasa yang hilang. Hahaha… keceriaan sesaat. Di antara mereka ada yang melambaikan tangan dan memberikan saya nomor Whatsapp.
Ingin rasanya membuat lagu dengan judul, “Ada Cinta di
Kereta.” Eeeeaaaaaaa……