Chapter 33 - #SAYUR NANGKA GOSONG
Siang itu saya berada di seputaran Gomong untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Saya ada janji untuk bertemu teman tapi sudah satu jam belum juga muncul. Cuaca yang sedikit gerah membuat saya ingin ngopi. Saya pun pergi ke warung kopi yang tak jauh dengan lokasi tempat saya bekerja. Begitu saya satroni, ternyata itu warung nasi. Tapi ada juga jual kopi dan rokok.
“Bik, beli kopinya satu, sama rokok sepuluh ribu. Bik, ada koreknya?” kata saya.
“Owh, nggak ada. Lupa saya taruh di mana. Kalau mau nyalain di dapur. Di kompor,” jawab bibi pedagang.
Saya lalu menuju dapur untuk menyulut rokok. Saya tak
mendapati api karena terhalang oleh panci besar yang duduk di atas kompor gas. Begitu saya membungkukkan badan ke bawah, barulah saya liat apinya yang ternyata kecil. Saya penasaran dengan isi panci yang ternyata sayur nangka. Saya lalu membakar rokok dengan membesarkan volume api. Lalu habis itu saya kembali menuju meja yang sudah tersedia kopi pesanan saya. Sekitar lima kali saya menyeruput...dengan enjoy, ada seorang pria yang entah dari mana masuknya tiba tiba berteriak, “iyah..iyah.”
Bibi pedagang ini lalu menyaut dan menuju sumber suara.
“Araq ape,” jawabnya dengan bahasa sasak. dan yang jelas sang pria marah-marah karena ternyata sayurnya kehabisan air (kuahnya) yang mengakibatkan agak gosong sedikit. Lalu saya teringat kalau saya ada hubungannya dengan kompor. Saya pun lalu bergegas pergi.
Dan sekitar dua puluh menit baru saya kembali untuk membayar kopi dan rokok. Ternyata benar dugaan saya kalau saya ada hubungannya dengan panci, sayur dan kompor.
Saya pura pura tidak tau. Dan bibi pedagang bertanya kepada saya, “mas, tadi apinya lupa dikecilin, ya.”
Saya pun menjawab dengan santai sambil baca do’a dalam
hati.
“ia, bi..lupa saya kecilin.”
“ya, air sayur nangkanya habis agak gosong dia. dia di
hangatin sayurnya untuk campuran nasi.
“ astaga, maaf bi, saya nggak tau.
“Iya, nggak apa-apa.. saya juga lupa kasih tau side. Jawab bibi pedagang dengan logat Bahasa Sasak kentalnya. Saya pun lalu membayar kopi dan rokok lalu kabur dengan perasaan bersalah dan ketakutan.