Buku YA AMPUN

Chapter 33 - #SAYUR NANGKA GOSONG

Sidzia Madvox2024/02/24 08:19
Follow

Siang itu saya berada di seputaran Gomong untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Saya ada janji untuk bertemu teman tapi sudah satu jam belum juga muncul. Cuaca yang sedikit gerah membuat saya ingin ngopi. Saya pun pergi ke warung kopi yang  tak  jauh  dengan  lokasi  tempat  saya  bekerja.  Begitu  saya satroni, ternyata itu warung nasi. Tapi ada juga jual kopi dan rokok.

“Bik, beli kopinya satu, sama rokok sepuluh ribu. Bik, ada koreknya?” kata saya.

“Owh, nggak ada. Lupa saya taruh di mana. Kalau mau nyalain di dapur. Di kompor,” jawab bibi pedagang.

Saya  lalu  menuju  dapur  untuk  menyulut  rokok.  Saya  tak

 

mendapati api karena terhalang oleh panci besar yang duduk di atas kompor gas. Begitu saya membungkukkan badan ke bawah, barulah saya liat apinya yang ternyata kecil. Saya penasaran dengan isi panci yang ternyata sayur nangka. Saya lalu membakar rokok dengan membesarkan volume api. Lalu habis itu saya kembali menuju meja yang sudah tersedia kopi pesanan saya. Sekitar lima kali saya menyeruput...dengan enjoy, ada seorang pria yang entah dari mana masuknya tiba tiba berteriak, “iyah..iyah.”

Bibi pedagang ini lalu menyaut dan menuju sumber suara.

 

“Araq ape,” jawabnya dengan bahasa sasak. dan yang jelas sang pria marah-marah karena ternyata sayurnya kehabisan air (kuahnya) yang mengakibatkan agak gosong sedikit.   Lalu saya teringat kalau saya ada hubungannya dengan kompor. Saya pun lalu bergegas pergi.



 

 

Dan sekitar dua puluh menit baru saya kembali untuk membayar kopi dan rokok. Ternyata benar dugaan saya kalau saya ada hubungannya dengan panci, sayur dan kompor.

Saya pura pura tidak tau. Dan bibi pedagang bertanya kepada saya, “mas, tadi apinya lupa dikecilin, ya.”

Saya pun menjawab dengan santai sambil baca do’a dalam

 

hati.

 

“ia, bi..lupa saya kecilin.”

 

“ya,  air  sayur  nangkanya  habis  agak  gosong  dia.  dia  di

 

hangatin sayurnya untuk campuran nasi.

 

“ astaga, maaf bi, saya nggak tau.

 

“Iya, nggak  apa-apa..  saya juga lupa kasih  tau  side. Jawab bibi pedagang dengan logat Bahasa Sasak kentalnya. Saya pun lalu membayar kopi dan rokok  lalu kabur dengan perasaan bersalah dan ketakutan.