Chapter 34 - #MANCING IKAN
Gara-gara habis nonton mancing mania di salah satu stasiun tv membuat saya ingin mancing. Saya pun menghubungi teman saya yang bernama Roby untuk ikut mancing. Bukan mancing di lautan seperti acara mancing mania, tapi kami mancing di lesehan yang memang menyediakan tempat pemancingan ikan tawar. Saya begitu antusias untuk memancing. Tak lupa saya panjatkan do’a agar kegiatan mancing berjalan lancar dan mendapatkan banyak ikan.
Di sana sudah tersedia alat pancing dengan menyewa seharga
lima ribu rupiah. Sekitar setengah jam akhirnya saya mendapatkan ikan pertama saya. Betapa bahagianya saya. Namun itu tak berlaku lama, karena saya tak bisa melepas pengait yang menempel di mulut ikan yang membuat ikan berdarah dan menderita. Setelah insiden ini, saya memutuskan untuk tobat memancing dan tak lagi memancing. Saya merasa berdosa besar karena membuat ikan merasa terluka.
Teman saya memilih melanjutkan pemancingan. Dan dia pun mendapatkan ikan begitu banyak. Ikan jenis nila yang tak terlalu besar tapi pas untuk disantap. Saya merenung di bawah pohon sambil meminta maaf pada ikan-ikan. Ikan hasil tangkapan saya kemudian saya lepas sambil berharap mulutnya sembuh. Tapi melihat teman saya yang begitu ceria dalam memancing ikan di Hari Minggu yang cerah itu membuat saya ingin memancing lagi. Tapi kali ini tidak dengan menggunakan umpan agar tak disantap oleh ikan-ikan. Saya
hanya pura pura mancing saja. Hampir dua kilo lebih teman saya mendapatkan ikan.
Dan hari sudah mulai sore, kami berdua bergegas pulang untuk membakar ikan. Dan ternyata hasil ikan yang kita dapat harus ditimbang dan dibayar. Saya waktu itu tidak tahu, maklum pertama kali mancing. Pas mengembalikan pancing, saya ditanya oleh kasirnya, ada dapatmya mas? Saya spontan jawab, tidak. Karena memang saya tidak dapat. Kan ikan yang saya dapat sudah saya
lepas.
Lalu saya mikir, “oiya… ternyata memang bayar.”
Berarti teman saya harus bayar puluhan ribu untuk menebus ikannya. Karena saya liat juga orang yang memancing yang mendapat banyak memang dia langsung membayar begitu ingin dibawa pulang. Teman saya sudah menyiapkan tas plastik hitam karena memang dia sepertinya sudah yakin akan mendapatkan ikan banyak. Di parkiran dia sudah menunggu dan bertanya, “ sidz, bayar ikannya?.”
“Kayaknya nggak, Rob,” jawab saya.
“Iya, sih... kayaknya nggak, lagian saya dapatnya kecil-kecil, nggak mungkin dihitung,” jawab Robi.
Pas kami mau pulang, barulah ikan-ikan besar itu dilepas ke kolam oleh petugas. (hebat akalnya Petugas, celetuk Robi.)
“Tapi hebatan kita, Rob,” jawab saya. Hahaha.
“Iya, lumayan buat bakar nanti malam,” jawab Robi lagi. Sesampainya di pertengahan jalan, perasaan saya tidak enak.
Merasa bersalah dan sudah pasti ini dosa. Saya pun lalu menceritakan ke Robi kalau ternyata ikan ini harus ditebus alias di
bayar. Mendengar apa yang saya ungkapkan, Robi pun kaget dan ketakutan. “Gimana dong ini, Sidz ?” Bisa kembung perut kita makan! “Sudah terlanjur, Rob. Yang penting banyak-banyak baca
do’a,” jawab saya.
Sesampainya di rumah pukul tujuh malam. Kami mempersiapkan peralatan bakar-bakaran. Muncullah Pak Haji yang baru pulang dari masjid. Ia lalu bertanya kepada kami, “katanya kalian habis mancing, ya?” Saya dan robi kaget. Karena merasa tak pernah memberitahu siapapun kalau kami mancing. Di lingkungan kami hal-hal kecil begitu cepat tercium media tetangga. Seperti ada paparazi. Apa mungkin karena kami dulu anak band jadi agak populer di lingkungan kami. Hihihihi...
“Kecil-kecil tapi dapatnya pak Haji,” jawab Robi. “Ah..nggak apa apa, yang penting halal,” sahut pak Haji. Saya dan Robi saling liat dan tertawa cekikikan.
Kami berharap jangan sampai pak haji makan ikan ini.
Ternyata pak Haji tak jadi makan ikan ini karena dia disuruh ke apotik oleh istrinya untuk membeli sesuatu.
Nah sepertinya ada yang lebih nikmat dari ikan, Pak Haji.