Chapter 31 - #NASIGORENG
Malam Minggu tahun yang saya lupa tahun berapa. Yoi, sehabis ngamen di salah satu cafe di seputaran Meninting jalur Senggigi sekitar pukul dua dini hari dan jatuhnya adalah Hari Minggu saya pulang ke rumah. Sebelum pulang ke rumah saya mampir dulu untuk membeli makanan (nasi goreng) karena lavar yang mendadak. tapi sudah banyak yang tutup. Alhasil saya pun menyatroni toko mart mart untuk membeli bumbu nasi goreng.
Malam itu saya agak mabuk yang menyebabkan saya agak malas juga untuk bertele-tele karena di samping itu juga sudah lelah. Bumbu nasi goreng pun saya beli tanpa melihat secara detail karena yang terlihat tulisan goreng.
Sesampainya di rumah saya langsung menuju dapur tempat eksekusi nasi goreng. Nasi sudah saya persiapkan di piring lalu saya tumpahkan ke penggorengan dan bumbu nasi goreng saya masukkan semuanya. Agak sempoyongan banyak ngantuknya. Saya aduk sampai rata bumbunya agar meresap. Pas saya cicip, kok masih asin. Ya..sudah, saya tambah lagi nasinya... begitu saya aduk, kok masih terasa asin... sampai setengah rice coocker nasi saya masukan masih juga terasa asin. Saya pun frustasi dengan hasil yang tak sesuai ekspektasi saya. Lalu saya tinggal tidur dan tak jadi makan nasi goreng.
Dan keesokan paginya, mama saya ngomel ngomel kepada
saya. “Kamu masak apa semalam?” “Nasi goreng, ma,” jawab saya.
“Yakin nasi goreng?” tanya mama saya dengan nada tinggi.
“Coba kamu liat dulu bumbu apa yang kamu pakai.”
Saya pun penasaran dan langsung menuju dapur. Dan ternyata bumbu yang saya pakai adalah bumbu ungkep goreng kuning apalah namanya agak lupa saya. Yang jelas warnanya seperti warna kuning stabilo.
Saya pun minta maaf kepada ibu saya. Tapi ia tetap memarahi saya karena sudah rugi besar nasinya saya habiskan.
“Makanya kamu jangan pulang-pulang mabok.”