Chapter 30 - #BURUNG BEO
Waktu itu Hari Minggu. Entah apa yang menjadi motivasi saya untuk berkunjung ke rumah Uwaq saya. Uwaq saya wanita dan ia adalah kakak kandung ayah saya.
“Tumben ke sini. Mimpi apa?” kata Uwaq saya sambil
mencabut satu demi satu daun kelor. Saya tidak heran dengan pertanyaan Uwaq saya karena memang saya jarang ke rumahnya. Kebetulan Uwaq saya punya warung sehingga dia menawari saya makanan dan minuman yang ia jual. Tapi saat itu saya lagi tidak mood mau makan atau minum. Ini dikarenakan perut saya lagi tidak enak. Saya pun memilih untuk berbaring sambil nonton tv.
Tak lama kemudian ada suara orang memanggil, “beli…Beli.”
Uwaq saya pun keluar dari dapurnya menuju warung yang terletak di samping ruang tamunya.
“Nanti kalau ada yang mau belanja kasi tau Uwaq, ya.”
Saya pun menjawab “ Oke, Waq.”
Eh, tak berselang lama terdengar lagi orang manggil-manggil,
“beli… beli.”
Begitu saya keluar tak seorang pun saya lihat. Mungkin yang belanja anak kecil pikir saya. Baru saya mau berbaring, terdengar lagi suara orang memanggil. Uwaq saya pun bertanya ke saya siapa yang belanja. Sampai empat kali kami tak melihat orang yang belanja namun hanya suara orang memanggil saja. Saya dan Uwaq saya berpikir sepertinya kita berdua lagi dikerjain nih. Saya pun memutuskan untuk mengintipnya dari pentilasi kamar sebelah yang
letaknya juga berada di samping kamar tamu. Dan ternyata yang ngerjain kita itu adalah burung beo peliharaan Uwaq saya!
“Beli…Beli.”
Begitu saya cerita ke Uwaq saya ia pun memarahi burung beonya. Ia memaki burung beo nya dengan penuh rasa jengkel. “Sun**L jamaq kamu teriak-teriak dari tadi kirain ada yang beli!”
Uwaq saya sangat marah sekali. Waktu itu dia juga lagi sakit gigi sehingga suara-suara kecil pun bisa menjadi hal yang sensitif dan menyulut emosinya. Namun bukannya diam, justru balik memaki dan menirukan sumpah serapah yang dilontarkan Uwaq saya kepada si Beo. Merasa dilecehkan oleh si burung beo, Uwaq saya pun melemparkan tomat yang ada di sampingnya ke burung beo. Saya pun hanya cekikikan dalam hati karena melihat dan mendengar si burung beo balik memaki Uwaq saya.