Buku YA AMPUN

Chapter 29 - #SALAH ORANG

Sidzia Madvox2024/02/24 08:19
Follow

Saya lupa tahun berapa tapi saya ingat kisah ini. Yes, waktu itu saya di ajak oleh teman saya yang bernama Hendra ke rumah mantan tetangganya yang tinggal di Lombok Timur menggunakan mobil.  Sekitar pukul dua belas siang kami berangkat. Kami berangkat bertiga. Saya, Hendra, dan ibunya Hendra.

Pukul satu siang kami pun tiba. Saya dan ibunya Hendra turun dari mobil sedangkan Hendra melanjutkan perjalanan untuk menjemput tantenya yang tinggal di Aikmel. Oh, iya…lokasi yang kami  datangi  bernama  kota  Selong.  Ibu  kota  kabupaten  Lombok

Timur.

 

Setelah turun, saya dan ibunya Hendra   pun disambut oleh mantan tetangganya yang bernama Tante Ida. Tante Ida memiliki warung makan dan toko klontong yang berada di rumahnya. Ibunya Hendra permisi ke belakang untuk berkunjung ke toilet entah ingin apa yang jelas dia mau ke toilet. Tante Ida begitu ramahnya sama saya sehingga saya pun jadi bingung sambil bertanya dalam hati, “ada apa ini?”

Tapi saya tak ambil pusing karena Tante Ida orangnya baik dan ramah. Buktinya saya langsung di suruh makan dan diberikan tiga bungkus rokok serta minuman cola. Sambil saya makan Tante Ida bercerita tentang masa lalunya saat masih tinggal di Kekalik. Tante Ida bilang ke saya kalau dulu dia sering memberikan saya hadiah mainan saat dia pulang dari luar daerah. Saya sih hanya bisa iya iya aja. Toh beli iya juga nggak.



 

 

Sekitar sepuluh menit kemudian Ibunya Hendra datang ke berugak tempat saya makan. “Cepet sekali besar. Dulu pas di Kekalik sering ambil jambunya pak Tamrin.” Saya menoleh ke Ibunya Hendra namun Ibunya Hendra sepertinya tak mendengar apa yang barusan dikatakan Tante Ida.

Dan  setengan  jam     kemudian  Hendra  datang  bersama

 

Tantenya yang baru dijemput. “Siapa itu?” tanya Tante Ida.

 

“Itu, kan, Hendra,” kata Ibunya Hendra yang sampai saat ini saya belum tau namanya siapa.

Mendengar apa yang diucapkan oleh ibunya Hendra membuat Tante Ida bingung lalu menoleh ke arah saya. “Loh, ini siapa dong?” tanya Tante Ida sambil menuangkan kopi ke gelas ibunya Hendra.

”Temen SMP-nya Hendra.”

 

Saya pun langsung melecat sambil membakar rokok pura-pura tak mendengar. Dari awal saya sudah yakin kalau Tante Ida mengira kalau saya adalah Hendra.

Dan  ketika  kami  akan  pulang,  Tante  Ida  cemberut  dan

 

memberikan senyuman sinis kepada saya. Mungkin dia malu atau marah. Atau merasa rugi karena telah memberikan tiga rokok dan minuman cola serta menjamu saya dengan antusias yang ternyata



 

 

salah                                                                                  orang.