Chapter 28 - #SALAH TEKAN
Suatu hari saya dan teman band saya yang terdiri dari Ryo Berry, Drummer dan Roby Ibelz, Bassist, lagi berkumpul di rumah saya makan bubur kacang hijau. Waktu itu kalau tidak salah kami baru saja selesai latihan musik. Di antara kami bertiga hanya Ryo yang berfungsi dengan baik handphonenya sehingga hal-hal yang menyangkut urusan manggung atau yang berkaitan dengan band bisa menghubungi nomer handphone Ryo.
Sore menjelang malam saya lagi intens sms-an dengan pihak penyelenggara acara yang belum menemukan titik terang. Dan malam harinya Handphone Ryo kembali berdering. Saya pun buru- buru mengambil handphone Ryo yang sedang bergeletak tak berdaya di kasur kamar saya. Dengan cepat saya berlari dan segera memencet keypad walau akhirnya saya salah tekan. Tiba-tiba saja terdengar suara rintihan yang begitu keras. Dan sontak membuat seisi rumah saya menjadi kaget. Ayah dan ibu saya memanggil saya.
“Astaga, apa itu?” ayah saya teriak dan menghampiri saya. Karena paniknya saya pun semakin gugup sehingga justru
volume-nya jadi semakin besar. Ryo dan Roby Ibelz takut sekaligus cengengesan melihat raut wajah saya yang memerah karena malu sekaligus grogi. Sebenarnya sih bukan karena takut dimarahi nonton, tapi malunya itu. Saya pun mengeluarkan kata-kata mutiara ke Ryo dengan intensitas ringan. Ternyata di handphone Ryo terdapat
banyak Film Jepang maupun Cina yang menyebabkan dia betah berlama-lama menatap layar handphonenya.