Buku YA AMPUN

Chapter 24 - #GORENGAN

Sidzia Madvox2024/02/24 08:19
Follow

Sekitar tahun dua ribu delapan saya berkenalan dengan mahasiswi. Kebetulan mahasiswi ini bekerja paruh waktu di warnet yang terletak di gomong. Begini ceritanya. Waktu itu saya lagi enjoy berselancar di dunia maya…eh kegiatan saya sedikit terganggu oleh seorang wanita, sebut saja Melati. Dia mondar mandir di hadapan saya. Saya merasa diintai oleh mbak Melati. Karena kesal saya pun menegur mbak Melati.

“Ada apa dari tadi kok bolak balik di depan saya, mau cari perhatian saya ya?” bentak saya.

Mbak Melati pun sedikit ketakutan dan menjelaskan maksud dari kegiatan mondar-mandirnya yang ternyata ingin mencari flasdisk user yang ketinggalan di bilik sebelah saya. Saya pun Ke GE ER RAN dan  meminta  maaf  sama  mbak  Melati.  Dan  saya  pun  mulai berkenalan dengan Mbak Melati yang ternyata dia seorang operator Warnet.

Singkat  cerita,  saya   pun  di  persilahkan  berkunjung  ke

 

kosannya yang berada tak jauh dari tempat ia bekerja dan dekat dengan kampus UI (Unram Indah). Malam minggu saya berkunjung ke sana sekitar pukul delapan malam. Sebelum ke sana saya sempatkan diri untuk membeli gorengan yang terdiri dari bala bala, tahu isi, tempe dan kawan-kawan agar ketika percakapan nanti menghasilkan nada-nada krenyeus crunchy. Membeli gorengan menghabiskan anggaran sekitar lima ribu rupiah.



 

 

Sesampainya saya di sana, kami ngobrol di depan pintu kamar kosnya. Ngobrol apa saja. Berkali-kali saya tawarkan dia untuk menyantap gorengan yang saya bawakan, namun ia selalu bilang “ntar aja.“

Malam itu saya merasa atmosfer malam minggu bagai malam jumat kliwon. Kurang romantis dan tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Kurang asyiklah. Sempat saya berpikir apa karena saya membawakan gorengan sehingga ia menolaknya. Tapi bodo amatlah, saya juga belinya butuh pengorbanan yang menyebabkan dana untuk beli rokok terpangkas karena telah membeli gorengan.

Karena suasana tidak asyik, saya pun memilih untuk pulang dan kebetulan teman saya menelpon saya menunggu di rumah untuk pesta malam minggu. Saya pun pulang dan pamit sama Melati walau dengan wajah cemberut. Melati pun mengikhlaskan kepulangan saya.

Sekitar seratus meter dari kosnya Melati, saya baru ingat kalau handphone saya ketinggalan usai menerima telpon dari teman saya. Saya pun balik ke kosnya Melati. Begitu saya berada di depan kosnya Melati, pintu gerbangnya tak di kunci alias masih terbuka lebar. Saya pun masuk. Saya melihat pintu kamarnya Melati terkunci namun jendela kamarnya terbuka dan lampu kamarnya masih menyala. Saya pun pelan-pelan masuk menuju kamarnya. Dan betapa kagetnya saya dan tak menyangka ternyata Melati lagi lahap menyikat gorengan yang saya bawa. Dia menyantapnya dengan ditemani nasi bungkus sambil asyik memainkan handphonenya. Saya pun asyik menyaksikan gigitan demi gigitan yang diperagakan oleh Melati. Dalam hati saya berkata “ye lapah harim ne,” berarti tadi itu dia jaim. Sekali kunyah dua bala bala disikat! Di depan saya dia pura pura malu.



 

 

Setelah selesai dia makan nasi dan gorengan, barulah saya mengetuk pintu kamar kosnya dan memanggil namanya. Dia pun keluar dan lalu berkata, “mau ambil hp-nya, ya?”

“Iya, nih, kelupaan,” jawab saya sambil sedikit senyum.

 

“Loh, mana gorengannya?” tanya saya.

 

Lalu dia menjawab, “sudah kita kasiin temen kos sebelah.” Dalam hati saya berkata “ow, melak harim ni.” Saya pun ilfeel.