Chapter 23 - #DIBILANG TUYUL
Tahun 2007 saya pedekate sama Anak SMA kelas tiga. Saya lupa namanya dan nggak ingat rasanya karena nggak ada rasa. Oke, sip, begini ceritanya. Saya mendapat nomer wanita ini dari teman saya. Saya pun mengubunginya via sms. Selama semingguan sms-an kami pun memutuskan untuk bertemu.
Pertemuan awal diselenggarakan di seputaran gomong.
Ternyata dia kos di sekitar sana. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia mengakhiri pertemuan ini sambil mengucapkan kata kata terakhir di sesi ini yaitu, “malam minggu besok main ke
kos.”
Saya pun dengan senang hati menerima tawarannya. Dalam hati saya berkata, “boleh juga nih, cewek.”
Sesampainya di rumah, saya lihat hp dan sudah ada sms masuk atas nama dirinya. Saya tak langsung membalas karena pulsa habis. Besok pagi saya balas sms yang bertuliskan, “gi apa”, “uda maem.”
Dan tibalah Hari Sabtu. Kegelisahan mulai melanda... saya melihat diri saya di kaca dengan rambut acak-acakan lalu memutuskan untuk cukur rambut. Demi penghematan saya pun mencukur sendiri. Pelan pelan saya cukur. Dan hasilnya lumayan rapi. Tapi terus saya pandangi wajah di kaca rasanya masih kurang puas dengan model seperti ini dan kembali saya cukur cukur cukur, hingga akhirnya klet sana klet sini! Saya pun kaget dan sedih. Waduh...
gimana cara mengakalinya. Dan akhirnya saya pun menggundulinya. Botak deh.
Malam telah tiba, waktunya ke kosan si wanita. Saya memakai kaos Sepakbola Intermilan dan menggunakan topi ke sana walau akhirnya sebelum sampai kosnya saya sudah kehilangan topi karena tertiup angin. Setibanya di depan kos telah hadir tiga orang wanita yang ternyata temannya si Onah. Saya pun menyapa mereka satu persatu sambil bertanya, “Onah ada?”
Salah satu dari mereka lalu memanggil Onah.
“Nah, ada yang cari nih.”
Onah pun hadir keluar kamar.
“Siapa yang cari?” kata Onah bertanya ke teman-temannya.
“Brayemeq no,” kata seorang teman Onah.
Saya pun menghampiri Onah. Tanpa disangka-sangka Onah berkata, “Siapa ya. Mau cari siapa, mas?”
Saya pun kaget mendengar pertanyaan Onah.
“Kan kemarin kita ketemu di warung itu. Di perempatan,”
jawab saya agak kesal.
Onah pura pura amnesia! Pura-pura nggak kenal. Apa mungkin gara gara saya botak ya.
Saya pun tanpa basa basi langsung ngacir pulang. Saya yang masih duduk di atas motor menenangkan diri di gang di samping kosannya dan mendengar pembicaraan mereka menggunakan bahasa daerah.
“Brayemeq no, Nah,” kata teman Onah.
“Segerah ku brayean kance Tuyul,” jawab Onah.
Mendengar kata kata Onah, saya pun tersinggung dan marah lalu berkata, “maraq bi saq oke laloq jari nine.”
Lalu saya hidupkan motor dan ngegas di depan mereka sehingga mengeluarkan asap yang begitu banyak lalu saya pergi.