Buku YA AMPUN

Chapter 23 - #DIBILANG TUYUL

Sidzia Madvox2024/02/24 08:19
Follow

Tahun 2007 saya pedekate sama Anak SMA kelas tiga. Saya lupa namanya dan nggak ingat rasanya karena nggak ada rasa. Oke, sip, begini ceritanya. Saya mendapat nomer wanita ini dari teman saya. Saya pun mengubunginya via sms. Selama semingguan sms-an kami pun memutuskan untuk bertemu.

Pertemuan   awal   diselenggarakan   di   seputaran   gomong.

 

Ternyata dia kos di sekitar sana. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia mengakhiri pertemuan ini sambil mengucapkan kata kata terakhir di sesi ini yaitu, “malam minggu besok main ke

kos.”

 

Saya pun dengan senang hati menerima tawarannya. Dalam hati saya berkata, “boleh juga nih, cewek.”

Sesampainya  di  rumah,  saya  lihat  hp  dan  sudah  ada  sms masuk atas nama dirinya. Saya tak langsung membalas karena pulsa habis. Besok pagi saya balas sms yang bertuliskan, “gi apa”, “uda maem.”

Dan tibalah  Hari  Sabtu. Kegelisahan  mulai melanda... saya melihat   diri   saya   di   kaca   dengan   rambut   acak-acakan   lalu memutuskan untuk cukur rambut. Demi penghematan saya pun mencukur sendiri. Pelan pelan saya cukur. Dan hasilnya lumayan rapi. Tapi terus saya pandangi wajah di kaca rasanya masih kurang puas dengan model seperti ini dan kembali saya cukur cukur cukur, hingga akhirnya klet sana klet sini! Saya pun kaget dan sedih. Waduh...



 

 

gimana cara mengakalinya. Dan akhirnya saya pun menggundulinya. Botak deh.

Malam telah tiba, waktunya ke kosan si wanita. Saya memakai kaos Sepakbola Intermilan dan menggunakan topi ke sana walau akhirnya sebelum sampai kosnya saya sudah kehilangan topi karena tertiup angin. Setibanya di depan kos telah hadir tiga orang wanita yang ternyata temannya si Onah. Saya pun menyapa mereka satu persatu sambil bertanya, “Onah ada?”

Salah satu dari mereka lalu memanggil Onah.

 

“Nah, ada yang cari nih.”

 

Onah pun hadir keluar kamar.

 

“Siapa yang cari?” kata Onah bertanya ke teman-temannya.

 

“Brayemeq no,” kata seorang teman Onah.

 

Saya pun menghampiri Onah. Tanpa disangka-sangka Onah berkata, “Siapa ya. Mau cari siapa, mas?”

Saya pun kaget mendengar pertanyaan Onah.

 

“Kan  kemarin  kita  ketemu  di  warung  itu.  Di  perempatan,”

 

jawab saya agak kesal.

 

Onah  pura  pura  amnesia!  Pura-pura  nggak  kenal.  Apa mungkin gara gara saya botak ya.

Saya pun tanpa basa basi langsung ngacir pulang. Saya yang masih duduk di atas motor menenangkan diri di gang di samping kosannya   dan   mendengar   pembicaraan   mereka   menggunakan bahasa daerah.

“Brayemeq no, Nah,” kata teman Onah.

 

“Segerah ku brayean kance Tuyul,” jawab Onah.

 

Mendengar kata kata Onah, saya pun tersinggung dan marah lalu berkata, “maraq bi saq oke laloq jari nine.”



 

 

Lalu  saya  hidupkan  motor  dan  ngegas  di  depan  mereka sehingga mengeluarkan asap yang begitu banyak lalu saya pergi.