Chapter 22 - #GARA-GARA MOTOR
Tahun dua ribu lima belas saya sempat pedekate dengan seorang wanita, sebut saja Lafender. Dia bekerja di finance dan bertugas di konter Hp. Apabila ada konsumen yang ingin kredit HP, maka Lafender siap beraksi. Dan waktu itu malam minggu, Lafender jenuh dengan rutinitas. Dia mengabari saya untuk mengajak jalan- jalan. Lafender sebenarnya pulang jam sembilan malam tapi karena tak tahan mengakibatkan ia ingin pulang lebih awal. Waktu itu menunjukkan pukul delapan malam.
Saya pun bergegas menuju konter HP untuk menjemput
Lafender. Ia bergegas dan tergesa gesa merapikan berkas-berkas lalu memasukannya ke dalam tas. Saya yang sudah siap menunggu di atas motor dan tanpa pikir panjang Lafender langsung naik sambil celingukan karena takut apabila tiba-tiba bosnya datang ke konter walaupun kecil kemungkinan untuk datang apalagi malam minggu.
Motor saya yang berjudul Suzuki A 100 melaju dengan kecepatan 80/jam. Itu pun kencang sekali. Motor itu saya cat berwarna hijau. Miriplah sama warna kawasaki ninja. Suaranya pun
11-12 lah. Kami berdua mengelilingi kota sambil mencari tempat
ngopi. Tak terasa waktu sudah jam dua belas malam kita nggak bisa ke mana-mana lagi karena kami sudah berjanji..ooww..yeee (kamu harus cepat pulang) jangan terlambat sampai di kosan.
Besoknya Hari Minggu. Lafender libur dan saya pun Libur. Kami sepakat berencana untuk jalan-jalan ke pantai. Setibanya saya di kosnya, Lafender lagi dandan. Saya pun disuguhkan kopi olehnya
sebagai bentuk ucapan terimakasih karena mau menunggu. Begitu selesai berdandan Lafender menyuruh untuk cap cus letsgo berangkat. Tapi apa daya, perdebatan sengit tak terhindarkan. Lafender tanpa diduga-duga marah-marah kepada saya. Saya pun bingung lalu bertanya, “kenapa kamu cemberut?”
“Mana motor semalem itu? Kenapa motor kayak gini dibawa?”
bentak Lafender.
“Motor mana, ini dah dia,” jawab saya.
“Bukan dia, kemarin kan hijau warnanya kenapa sekarang putih,” Lafender bersikeras yakin kalau motor yang kemarin berbeda dengan yang saya bawa sekarang padahal sama.
Saya pun memberinya pengertian dan penjelasan berkali-kali tapi Lafender tak percaya. Jalan-jalan pun dibatalkan.
Dia pun menutup pintu kamarnya. Saya pun pulang. Sesampainya di rumah saya chat dia tapi nggak direspon, tak
ada balasan dan jawaban. Saya telpon tapi tak diangkat angkat bahkan hpnya tidak aktif.
Dua hari kemudian saya pergi ke kosnya, dan ternyata
Lafender sudah berhenti kos di sana.
Lafender hilang bagaikan di telan bumi.