Chapter 20 - #MENGHADIRI UNDANGAN
Setelah Hari Sabtu maka datanglah Hari Minggu. Nah, pada hari minggu saya mendapat pesan singkat yang disingkat (PS) yang bertuliskan, “mau hadir di acara pesta besok?”
Mendengar kata pesta, tanpa ragu saya mengiyakan ajakan
teman saya, sebut saja Aliando. Dan pukul sebelas pagi Aliando sudah muncul di depan rumah saya. Kebetulan si Primus teman saya yang tinggal di sebelah rumah saya dan juga teman dari Aliando. Saya pun mengajak Primus untuk ikut meramaikan. Primus menyetujui ajakan saya.
Kami berangkat bertiga menuju lokasi acara. Sesampainya di sana, Aliando langsung mengambil piring dan menyenter menu-menu nikmat yang telah tersaji. Tapi hari itu cukup aneh menurut saya. Karena tak biasanya seperti ini selama menghadiri acara. Orang- orang di sana menatap kami bertiga dengan penuh kecurigaan. Saya saja sampai gemetar untuk sekadar mengambil kuah bakso.
Perasaan nggak enak nih. Waktu itu acara sunatan. Ada dua orang bocah yang sudah selesai disunat dan duduk rapi di kursi yang telah disediakan serta bersiap menerima amplop berisi uang. Aliando slow mengangkat sate ayam untuk ditaruh di atas nasi. Tapi orang orang di sekitar mulai memancarkan raut wajah kecut seperti gula. Saya pun tak lupa baca do’a agar lebih tenang dan enjoy. Begitu kami selesai menyantap makanan, kami pun menyalami dua orang bocah yang telah disunat. Bocah ini pun cemberut bukan tanpa
alasan. ini dikarenakan teman saya yang bernama Aliando tak memberi amplop. Tanpa pikir panjang dan basa basi saya dan Primus langsung keluar lokasi acara.
Saya pun bertanya ke Aliando, “kenapa orang orang itu lihatin kita aja ya?” Setelah di perjalanan baru saya mengerti, kalau ternyata itu adalah acara yang hanya dihadiri oleh anggota paguyuban dari suatu daerah sehingga mereka hafal siapa-siapa saja tamu undangannya. Pantesan.
Acara tidak berakhir sampai di sini karena teman saya masih punya jadwal undangan lagi dua. Jadi sehari itu ada tiga tempat yang akan kami kunjungi. Di acara kedua berlokasi di...di sanalah pokoknya. Acara nikahan.
Saya dan Primus tak kenal sama yang punya acara tapi sok sok kenal senyam senyum salam salaman. Habis itu kami pun makan makan... sambil menyuap nasi saya bertanya ke teman saya, “Al, yang nikah ini teman SMA-mu apa teman kuliahmu?”
“Saya sebenarnya juga nggak kenal sama yang nikah! Saya
dapat undangan ini di BEM. Yang diundang itu temen saya sebenarnya. Cuma karena dia nggak sempat, saya yang wakili.”
Mendengar statement Aliando, saya yang lagi nyuap nasi membuat nasi saya masuk ke hidung. Beragam kata-kata bijak dan sumpah serapah kembali berkumandang. Nggak lagi lagi dah, Al! Saya pikir kamu kenal.
Al pun kembali mengajak kami ke acara ketiga. Acara orang Jepang. Tapi kami menolak dan kebetulan alamatnya hilang. Jadi saya dan Primus langsung pulang. Sedangkan Aliando entah ke mana.