Chapter 19 - #KEPONAKAN HARIMAU
Sekitar tahun 2002 di rumah saya begitu banyak kucing yang menginap tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada saya. Sehingga saya pun bingung harus mendatanya. Saya curiga mereka akan mengkudeta saya dan isi kulkas saya. Bahasa kucing yang terdiri dari “meong meong meong” yang memiliki sejuta makna membuat saya tertarik untuk menelusuri lebih jauh mengenai harimau mini ini.
Semenjak kucing-kucing ini minta suaka, pengeluaran saya
pun membengkak. Ini dikarenakan kucing-kucing ini berisik meminta ikan tongkol. Mereka minta jatah makan kapan saja mereka mau (semele melenya). Karena saya prihatin, maka saya pun membelikannya ikan tongkol. Malam harinya sempat saya ajak berdiskusi dan bertukar pikiran kepada kucing-kucing ini bagaimana cara mensiasati agar mereka selalu makan ikan tongkol tapi tidak dengan cara saya harus membelikannya. Namun karena tak ada jawaban, maka saya pun memikirkannya sendiri dan malam itu juga saya mendapat inspirasi.
Keesokan harinya saya mulai beraksi. Melihat kucing-kucing yang berjumlah sekitar sepuluh ekor sedang asyik bercengkrama dan berguling-guling di area belakang rumah saya, saya pun lalu mengambil papan kecil dan menuliskan kata kata, “Area Sirkus Keponakan Harimau.”
Dan saya memasangnya di depan rumah saya.
Anak anak kecil pun heboh dan mereka lalu menyebarluaskan berita ini ke teman-teman yang lainnya. Saya mengenakan tarif lima ratus rupiah untuk tiket masuk berlaku untuk satu orang. Mereka begitu antusias untuk masuk dan menyaksikan aksi dari kucing (keponakan harimau) ini. Sekitar sepuluh ribu lima ratus rupiah berhasil saya proleh dari acara sirkus ini. Mereka memperhatikan betul kucing-kucing ini.
Di tengah acara, ada di antara mereka menaruh curiga ke saya. Mereka saling berbisik. Saya pun mendengar percakapan mereka. “Kayak kucing. Bukan harimau,” kata anak kecil itu. Tatapan mereka bagaikan kesatria siap bertempur. Mungkin dalam hati kecil mereka berkata, “awas aja kalau saya sudah besar, giliran saya yang kerjain.”
Merasa dikadali, mereka pun satu persatu pulang dan ternyata melapor ke orang tua masing masing.
Maaf ya, adik adik!