Chapter 18 - #MAKAN MIE AYAM
Waktu itu malam hari, saya diajak jalan-jalan oleh teman wanita saya yang bernama, sebut saja “Es Teler”. Es teler katanya lagi buntu dan pengen jalan-jalan mengelilingi kota tercintahhh mencari angin. Nggak dicari aja dia datang sendiri sebenarnya anginnya.
Di tengah perjalanan kami, Es Teler tiba-tiba menyuruh saya
berhenti. Bukan karena lelah berkendara melainkan untuk mampir ke cafe yang lagi nge-hits gituuuu deh. Beberapa hari yang lalu saya sudah berjanji kepada Es Teler kalau saya akan mentraktirnya makan. Dan saya curiga Es Teler akan mempercepat waktunya. Saya pun tak menghiraukan permintaan Es Teler dan melanjutkan perjalanan berburu angin.
“Kenapa nggak berhenti?” Es Teler cemberut dan menyimpan kesedihan. Saya pun berdalih kalau di sana kurang asyik dan terlalu ramai. Tapi Es Teler bersikeras dan ingin ke sana. “Tapi kita di sana nggak makan orang. Kita kan makan makanan!” jawab Es Teler secara mendadak di daun telinga saya yang mengakibatkan adanya timbul rangsangan.
Saya terus melanjutkan perjalanan sampai berhasil meyakinkan dia untuk makan mie ayam. Awalnya dia tidak tertarik, tapi lama-kelamaan mau juga setelah saya bilang ke dia kalau mie ayam ini sangat spesial dan lagi viral. Saya pun mengajaknya makan mie ayam yang berada di taman kota. Posisi dagang mie ayam ini ada di pinggir jalan dengan konsep lesehan meja kecil-kecil. Di dalam
dompet saya, saya sudah yakin isinya hanya tiga puluh ribu. Jadi untuk sekadar traktir mie ayam rasanya cukup. Gajian juga masih lagi seminggu. Saya yang juga baru pertama kali beli mie ayam di situ sangat yakin kalau harga mie ayam paling paling kurang dari sepuluh ribu. Sekitar tujuh sampai delapan ribu aja.
Es Teler begitu antusias memesan mie ayam berlabelkan Special level satu! yang di mana terdiri dari ceker, bakso, pangsit, telur puyuh. Es Teler memesan minuman bernama Es Jeruk. Malam itu Es Teler memang lagi lavar sehingga mudah tersulut emosi. Ini juga bisa dilihat dari lontong yang dipesan dua biji. Pedagang mie ayam dengan enjoynya mengerjakan pesanan.
Saya pun membakar rokok saya sambil melihat menu yang bergentayangan di atas meja. Begitu saya melihat harga mie ayam, saya pun kaget dan mules seketika. Setelah saya hitung-hitung, total pesanan Es Teler saja sekitar dua puluh ribu! Saya pun mengurungkan niat untuk mengikuti menu yang sama yang dipesan oleh Es Teler. Harga Mie ayam biasa sembilan ribu. Saya pun tidak bisa membeli es jeruk. Air putih tak tersedia. Seribu rupiah bayar
parkir.
Es Teler pun bertanya kepada saya, “kok, mie ayamnya nggak ada cekernya.”
“Owh, saya suka yang original. Biar rasa asli dari kuah mie
ayamnya tetap terasa,” jawab saya.
Karena kepedasan dan kehausan saya pun minum Es Jeruknya Es Teler walaupun dia sedikit ngeremon. “Kenapa ngga pesen minum?” tanya Es Teler sambil mengusap bibirnya dengan tisu.
“Minum satu berdua aja biar romantis,” jawab saya. Es Teler lalu berkata, “Aoq aneh.”
Kami pun pulang dengan perasaan yang tidak dapat diterka satu sama lain.