Buku YA AMPUN

Chapter 17 - #TUKANG PARKIR

Sidzia Madvox2024/02/24 08:19
Follow

Waktu  itu  Hari  Sabtu,  saya  pun  dengan  ikhlas  mengantar mama saya ke pasar favoritnya yang terletak tidak jauh dari rumah saya.  Sekitar  dua  kilo.  Sesampainya  di  pasar  sebenarnya  ada keinginan untuk menjelajahi atmosfer pasar. Namun saya urungkan karena tak satu pun saya lihat pengunjung wanita yang berseliweran di dalam pasar. Kebanyakan inaq inaq yang mendominasi secara signifikan. Saya pun memutuskan untuk enjoy di atas motor. Hitung- hitung menjaga motor dan tidak bayar parkir.

Setelah hampir satu jam lebih tak kunjung muncul mama saya

 

tercinta membuat saya gelisah tak menentu. Pikiran saya bercabang dan mata mulai berkunang-kunang karena melihat begitu banyak orang yang berlalu-lalang di pasar. Saya pun mencoba berdiri di samping motor sekaligus meregangkan otot-otot saya. Tak disangka- sangka ada seorang ibu-ibu menyerahkan kunci motornya ke saya. Saya awalnya nampak bingung.

“Itu motor saya yang berwarna biru,” kata ibu-ibu paruh baya. Saya sih dengan senang hati membantu ibu-ibu itu mengeluarkan motornya dari himpitan motor-motor lainnya. Usai berhasil mengeluarkan motor ibu itu, saya diberi dua ribu rupiah. Saya kaget dan bertanya ke ibu itu, “apa nih, bu”.

“Uang, kan,” kata ibu itu.

 

“Masih kurang, ya?” tanya ibu itu sambil menghidupkan mesin motornya.



 

 

Dalam  hati  saya  berkata,  “ibu  ini  salah  paham  dan  salah

 

sangka, dipikir saya tukang parkir mungkin.”

 

Bapak-bapak yang ada di samping ibu itu lalu memanggil tukang parkir yang memang berkompeten di bidangnya. Tukang pakir sesungguhnya dengan gesit menghampiri ibu itu sambil meniup pluitnya.  Ibu itu pun kaget dan lalu minta maaf ke saya. “maaf, nak, tak pikir…”



 

 

 


 

 

 

 

 

“Iya, bu... saya maklumi.”



Karena begitu lama saya menunggu, saya pun mencari Mama saya ke dalam pasar. Dan tak kunjung saya temui mama saya, saya pun memilih untuk pulang ke rumah.

Sesampainya saya di rumah saya disambut makian sumpah serapah dan omelan klasik khas ibu-ibu. Ternyata Mama saya sudah pulang duluan menggunakan ojek karena tak melihat saya di tempat parkir. Itu alasannya.

Saya justru curiga kalau Mama saya yang lupa kalau pergi kepasar sama saya.

Hari Minggu agak sial nih.