Chapter 16 - #MINUM KOPI
Hari minggu pagi saya dan teman-teman saya bermaksud untuk bermain sepakbola di lapangan yang berada di lingkungan tempat kami tinggal. Sebenarnya mata ini masih lelah dan enggan untuk terbangun lebih awal. Tapi apa daya teman-teman yang lain mencari saya ke rumah.
Waktu menunjukkan pukul tujuh. Mentari masih hangat-
hangatnya. Teman-teman yang lain sudah berada di pinggir lapangan sambil melakukan pemanasan. Ada juga yang bercerita mengenai kenakalan yang dilakukan semalam. Beragam topik pembicaraan berkumandang. Salah satunya tentang pertandingan sepakbola dini hari tadi. Tapi ada juga yang bercerita mengenai doraemon dan film kartun serta film-film Jepang yang cukup membuat kami berkeringat.
Saya yang masih lemas dan uring-uringan memilih untuk mencuci muka di rumah teman saya yang berada di depan lapangan. Setelah membasuh wajah dengan air dingin, pandangan saya jadi fresh dan bergairah. Saya tak lupa memanjatkan do’a dan puji syukur atas kenikmatan yang telah diberikan Tuhan kepada saya. Dan tak lama kemudian Tuhan mendengar do’a saya. Tiba-tiba di atas meja berugak rumah teman saya telah tersaji kopi hitam dengan aroma yang menggoda. Dalam hati saya berkata, “inikah rejeki di pagi hari?” Tanpa basa-basi saya pun langsung menyeruput kopi hitam
itu. Tak lama kemudian keluarlah om Inor yang diduga omnya teman saya. Melihat aksi saya yang menyeruput kopi, ia pun melancarkan
serangan dengan mata melotot dan mengeluarkan kata-kata mutiara dari berbagai belahan Nusantara. “Ba**sat kamu, ya!” Saya pun ketakutan dan gemetar. Untuk menghindari kontak fisik dan intimidasi verbal, saya pun perlahan berjalan keluar rumahnya teman saya lalu lari terbirit-birit sambil baca do’a semoga tidak diperpanjang mengenai kasus minum kopi tetangga.
Sesampainya di rumah saya di tanya oleh Mama saya, “loh, kamu kenapa, kok kayak orang ketakutan gitu.”
“Anu, ma... saya kebanyakan lari, jadinya kaki saya gemetar,”
jawab saya singkat.