Chapter 15 - #REUNI SMP
Saya mendapat pesan singkat dari teman saya kalau beberapa hari lagi akan ada reuni akbar SMP. Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk menghadiri karena saya merasa teman-teman angkatan saya pasti banyak yang tak datang. Ini dikarenakan banyak di antara mereka yang sudah tidak berdomisili di Mataram dan mungkin juga banyak yang wafat. Berkali kali saya diingatkan oleh teman saya untuk hadir.
Dan tibalah Hari Minggu yang di mana reuni akbar SMP
berlangsung. Saya ke sana pukul sebelas pagi. Benar saja,tak satu pun saya temukan teman-teman saya, terutama teman-teman sekelas saya. Tapi, ya, karena sudah terlanjur ke sana, saya pun mengelilingi dan melihat tiap-tiap sudut sekolah yang memiliki banyak cerita. Saya menyusuri kantin sekolah. Di sana banyak cerita indah yang tercipta. Terutama saat jam istirahat yang di mana berjubelnya murid-murid yang berbelanja baik wanita maupun pria. Momen desak-desakan dan himpit-himpitan menjadi favorit bagi kaum pria. Mereka memanfaatkan ini sebagai ajang grepe pegang sana pegang sini remas sana remas sini. Kreatifitas tangan sangat berperan untuk meraih apa yang diinginkan. Tepuk sana tepuk sini sampai enjoy. Pokoknya serulah. Dan baru setelah itu genk saya memesan soto dan minuman. Pesan soto nggak bayar tapi minta kembalian. Dagang soto yang kalah banyak dari murid kewalahan meladeni. Entah berapa kerugian materi yang ditanggung oleh pedagang soto. Kami berdosa, dagang soto mendapat pahala.
Saya pun kembali melanjutkan napak tilas menyusuri balkon dan saya masih ingat ruangan saya dulu. Saya duduk sebentar dan mengingat cerita-cerita dulu. Yupz, waktu itu Hari Senin dan saya malas untuk mengikuti upacara bendera hingga terbersitlah keinginan untuk pura-pura pingsan. Yes, saya pura pura pingsan dan digotong ke ruang BK. Saya terbaring enjoy disana. Dan guru BK bertanya ke saya, “nak, kamu nggak sarapan ya tadi.”
Inilah pertanyaan yang saya tunggu-tunggu, “iya, bu,” jawab saya lirih (pura pura).
“Kalau gitu ibu beliin roti, ya.”
“Saya nggak bisa makan roti kalau nggak campur susu.”
Ibu guru pun membelikan saya roti dan susu. Sehabis itu banyak teman saya yang membesuk saya lalu membawakan saya kue, cokelat, dan madu. Dalam hati saya berkata, “enak juga, ya.” Coba kayak di sinetron-sinetron kalau pingsan dikasih napas bantuan. Guru BK ini salah satu guru favorit saya. Selain masih single, cantik, beliau juga adalah alasan saya untuk sekolah dan semangat belajar.
Tak lama kemudian pandangan saya tertuju pada tulisan di
papan. Saya mengingat-ingat kembali dan masih ingat. Di papan kecil itu bertuliskan nama guru PMP saya. Guru itu tidak galak tapi suka ngerjain muridnya. Pernah suatu hari saya disuruh keliling lapangan karena melamun di kelas saat ia sedang menerangkan. “Siapa yang lagi mikirin neneknya kawin?”
Saya masih tak sadar. Teman teman saya semua melihat saya. Saya pun kaget dan mereka semua tertawa. “ kamu sudah bosan hidup ya “ tanya Guru PMP.
Saya hanya terdiam dan berlari mengelilingi lapangan sebanyak delapan kali.
Oiya, pernah juga kami satu kelas dijemur di lapangan khususnya yang cowok-cowok karena melakukan tindak kekerasan terhadap teman sendiri. Dimotori oleh teman saya yang bernama Friends.
Friends mengajak teman-teman yang lain untuk bersiap-siap menghajar siapa saja yang masuk ke dalam kelas. Friends sudah menyiapkan taplak meja untuk menutup wajah calon korban. Dan yang menjadi korban adalah Nabrok yang sedang enjoy makan kripik. Dan wajah Nabrok dibungkus taplak meja sehingga ia tak dapat melihat siapa saja yang memukuli dan menendangnya. Nabrok tepar. Tapi teman teman tak percaya karena menganggap Nabrok hanya akting. Pukulan dan tendangan pun kembali dilancarkan walau sebenarnya tidak terlalu keras tapi banyak.
Setelah dibiarkan sekitar dua puluh detik ternyata Nabrok pingsan! semua teman sekelas saya menjadi tersangka termasuk saya. Maafkan kami, Nabrok.