Chapter 13 - #JUAL KARDUS DAN SEPATU
Karena waktu itu kami kekurangan dana untuk biaya rekaman saya dan teman saya menjual sepatu milik ibunya teman saya. Kami pergi ke pasar loak dan berharap memiliki nilai jual yang tinggi untuk sepatu itu. Sesampainya di sana, para pedagang sepatu bekas mulai mengerumuni kami. Mereka penasaran dengan sepatu yang kami bawa. Kami pun cengengesan karena merasa harga sepatu ini pasti mahal. Setelah kami perlihatkan ke mereka, raut wajah mereka berubah masam. Ternyata sepatu yang kami bawa tak sesuai harapan mereka. “Kalau model gini harganya dua ribu dek!” sahut pedagang soto. Pedagang sepatu tak ada yang mau beli. Menurut mereka ini sepatu tak ada yang spesial. Katanya model lama dan susah laku. Kami sempat tersinggung dengan dagang soto yang menawar dengan harga tak sepatuwi. Teman saya ini juga awalnya ragu untuk menjual namun karena sudah terlanjur ia pun merelakan sepatu itu dijual. Yang beli adalah pedagang kopi yang ikut nimbrung di sebelah. Kami pun mengikhlaskan sepatu itu dijual.
Melihat raut wajah kesedihan teman saya ini, saya pun menunjukkan sikap solidaritas dengan ikut menjual sepatu saya yang baru saya beli seminggu yang lalu. Sepatu saya dibeli dengan harga lima puluh ribu rupiah! Saya membelinya dengan harga seratus ribu rupiah. Tak apalah. Setibanya di rumah teman saya kami minum es. Dan di situlah inspirasi muncul. Teman saya ini juga memiliki Apotek. Di gudangnya tersimpan begitu banyak kardus-kardus bekas. Terbersitlah keinginan untuk menjualnya. Tanpa pikir panjang kami
pun menjualnya di pengepul yang ada di depan apotek teman saya. Setelah hitung hitungan, kami pun mendapat uang senilai enam puluh ribu rupiah. Stok kardus masih banyak di gudang dan dilanjutkan besok lagi. Dan keesokan harinya ibunya teman saya ini melihat aktifitas kami yang sibuk mengangkut kardus. “Mau dibawa ke mana kardus-kardus itu?” tanya ibunya teman saya.
Saya dengan sigap lalu menjawab, “mau dibuat peredam
studio di rumah saya, tante.”
Mendengar hal itu ibunya teman saya mensupport kami dengan menyuruh untuk membawa lebih banyak lagi. Bila perlu dihabiskan. Kurang lebih lima hari berturut-turut kami melakukan jualan kardus. Ibunya teman saya kembali bertanya kepada saya, “hay,udah jadi studionya?”
“Belum, tante...masih pasang pintu,” jawab saya singkat.
“Oke, deh. Semangat, ya.”
Dan waktu itu Hari Jumat hari yang di mana kami berdua habis ditatar oleh ibunya teman saya. Aksi kami terbongkar! Pak pengepul tanpa konfirmasi langsung membawa gerobaknya ke rumah teman saya.
Dia bernyanyi lantang dan bercerita secara detail kalau kami menjual kardus ke dia. Sontak ibunya teman saya marah besar. Saya dihubungi via sms habis dimarahi. Dua tahun lebih saya tak berkunjung ke rumah teman saya. Mulai saat itu saya dan teman saya tobat jualan kardus. Dan band kami pun vakum untuk kesekian kalinya. Band saya namanya “ ON-OFF 2003” karena dibentuk tahun
2003. Kalau vakum ya jadi OFF.