Buku YA AMPUN

Chapter 12 - #DIJAHIT

Sidzia Madvox2024/02/24 08:19
Follow

Waktu itu saya sekadar iseng memeriksakan diri ke puskesmas karena takut terkena demam berdarah. Dan sesampainya di sana suster menyuruh saya untuk membuka baju. Saya sempat berpikir, kok seperti film Jepang yang saya sering tonton itu ya. Dan ternyata si  suster hanya ingin  melihat apakah  ada  atau  tidak  bintik-bintik merah. Dan memang tidak ada karena tidak ada gigitan. Tak lama kemudian dengan inisiatif sendiri suster cantik ini mau menyuntik saya. Saya pun menolak keras! “Lho, kok nggak mau disuntik, “kata

suster.

 

Saya terpaku menatap wajah Suster itu. Sempat ada rasa di hati saya. Tapi saya menyadari tidak mungkin juga dia mau sama saya. “Masak tattooan nggak berani sama jarum,” suster ini kembali meyakinkan saya kalau disuntik itu tidak sakit. “Kalau nggak mau disuntik, ambil air seninya aja,” kata ibu dokter yang sudah agak senior dan nampaknya dia marah sama saya karena saya juga menolak tawarannya untuk disuntik dengan jarum bayi. Saya pun bergegas ke toilet untuk mengeluarkan air mancur. Sempat saya ingin mengambil sabun tapi cepat cepat saya menyadarinya. ah kebiasaan, nih. Sekitar lima menit menunggu akhirnya air mancur ini keluar juga. Saya taruh di dalam gelas plastik yang sudah disediakan, lalu saya tinggalkan di atas meja satpam. Pak Satpam pun mengejar saya dan berteriak. “woiii,,,mas....apa ini!!!” kabuuurrrrrr.

Hari itu saya menolak disuntik.

 

Dan dua hari kemudian saya akan bermain futsal pada sore harinya. Seperti biasasaya selalu melakukan pemanasan terlebih dahulu sekedar melemaskan otot-otot yang lama tidak lemas karena selalu kencang. Kencang karena dikencangkan oleh pikiran. Di ruang tamu rumah saya terdapat kaca besar. Saya menatap kaca sambil



 

 

melompat-lompat dan tidak sadar kalau saya semakin mundur saat melompat dan mengenai kusen pintu yang menyebabkan kepala mengeluarkan darah alias robek.  Saya yang tampak panik langsung berlari ke rumah tetangga saya yang bekerja di dinas kesehatan. Saya berkonsultasi untuk masalah penanganannya. Dan saya pun disuruh untuk pergi ke UGD. Ayah saya lalu mengantarkan saya ke UGD Rumah sakit Provinsi. Setibanya di sana saya sudah disambut oleh pasien yang terlebih dahulu terbaring lemah dengan luka di sekujur tubuh. Dia seorang kakek-kakek yang menjadi korban tabrak lari. Melihat atmosfer di dalam ruang Unit Gawat Darurat membuat saya jadi tambah sakit dan ketakutan. Saya memilih untuk tidur dan ternyata saya tidur beneran.

Sekitar   lima   belas   menit   saya   terbangun.   Mata   saya berkunang kunang. Di hadapan saya nampak seorang wanita cantik. Saya pikir saya sudah ada di surga bersama bidadari-bidadari. Ternyata  suster  cantik  sedang  membersihkan  darah  yang menyelimuti kepala saya. Belaiannya menyejukkan hati. Saya pun pura-pura tidur. “Ayo, bangun,” kata ayah saya.

“Mau di bawa ke mana lagi?” tanya saya yang kembali panik.

 

Dan ternyata proses jahit menjahit telah selesai. Ayah saya mengatakan kalau saya dijahit sekitar lima belas jahitan dan disuntik. Saya merasa seperti main sinetron saat bertatapan dengan suster cantik yang membuat saya enjoy berada lama-lama di dekatnya. Akhirnya  saya  disuntik  juga.  Ternyata  disuntik  tidak  sakit  karena sudah dibius.