Chapter 11 - #KALIOMANG
Waktu jaman SD, di sekolah saya terdapat banyak pedagang kaliomang. Dengan tempurung yang diberi warna menambah keindahan serta memiliki nilai artistik terhadap kaliomang. Ini juga merupakan trik pedagang untuk menarik minat pembeli terutama dari kalangan anak-anak TK. Dengan harga yang relatif murah membuat kaliomang ini menjadi primadona di sekolahan saya. Bahkan mampu mengalahkan nikmatnya permen gula gaet.
Kaliomang yang bersembunyi di dalam tempurungnya ini
haruslah diberi napas agar mau keluar kepalanya. Namun teman teman saya selalu gagal mengeluarkan kaliomang untuk berjalan. Kami berempat pun bertanya-tanya pada pak pedagang kaliomang. Kata pak pedagang kaliomang kalau mau keluar kepalanya haruslah diberi napas ditiup-tiup. Apalagi kalau napasnya bau pasti cepat keluar. Dan benar saja teman-teman saya yang berada di kampung sebelah yang notabene jarang gosok gigi selalu berhasil mengeluarkan kepala kaliomang. Bahkan kaliomang ini pun tak segan-segan untuk kabur dari tempurungnya karena tak tahan dengan aroma napas yang dihembuskan oleh teman-teman saya yang jarang gosok gigi. Bahkan ada kaliomang yang pingsang. Ada juga teman saya yang mencoba mengeluarkan kepala kaliomang ini dengan cara ekstrim yaitu dengan memasukannya kedalam mulutnya. Pak pedagang kaliomang ini pun menaruh rasa curiga kepada teman saya ini yang berasal dari kampung sebelah. Namun begitu di keluarkan kaliomang ini sudah tak bernyawa karena
bercampur tai gigi berwarna abstrak . Pak pedagang kaliomang ini pun meratapi kepergian kaliomangnya lalu memaki teman saya ini dan menyuruhnya untuk ganti rugi.