Buku YA AMPUN

Chapter 10 - #DAGANG CILOK

Sidzia Madvox2024/02/24 08:19
Follow

Sekitar tahun 2001 kalau nggak salah di lingkungan rumah saya terdapat pedagang cilok. Pedagang cilok ini laris karena dia satu-satunya yang berjualan. Jadi bukan karena semata-mata cilok ini enak, tapi karena tak ada pilihan lain. Selain itu kami pun diperbolehkan ngebon oleh pedagang cilok ini. Saya tidak menyebut namanya nanti dia viral. Ada teman saya yang sudah di berikan ngebon tapi minta bonus alias mau colok lagi.  Beli seribu bonusnya tiga ribu. Ini yang menyebabkan dagang cilok sempat ngambulan A.K.A Ngambek. Pedagang cilok ini  pun  habis  kesabaran,  ia  pun emosi dengan memukul rombongnya yang berisi cilok dan es. Semua jatuh dan muncrat. Anak-anak terdiam melihat aksi pedagang cilok ini. Segala macam sumpah serapah dari berbagai belahan nusantara berkumandang sore itu.  Teman saya yang dimarahin pedagang cilok ini  pura-pura  selow  lalu  pergi  secara  perlahan  seperti  tak  ada masalah. Namun dagang cilok ini masih menggerutu dan ngeremon.

Lima belas menit setelah pertempuran Single Fighter berlalu saya pun meredakan suasana dengan membeli cilok itu. Di rombongnya tertulis seratus persen daging sapi! Dan itu yang membuat orang-orang penasaran untuk mencobanya. Pertama-tama memang ada rasa dagingnya namun setelah kelamaan barulah terasa kanji tok isinya. Tangan saya habis lengket dan saya pun mengomentari plus mengkurasi cilok ini, “pak, ini cilok daging sapi apa lem dlukol.”



 

 

 


 

Mendengar itu dagang cilok langsung menarik kerah baju saya seraya berkata, “Sund*L! Jangan ngomong gitu, ndak enak didenger sama yang lain.“ Melihat wajahnya yang merah kecokelatan membuat saya membayar dua kali lipat lalu kabur. Bapak cilok ini mau menantang saya berkelahi. Saya pun sebenarnya takut-takut berani. Sore  itu  lengkap  sudah  emosi  dan  komposisi  kemarahan  bapak dagang cilok. Seminggu ia tak berjualan entah karena ngambul atau berhenti berdagang. Kami pun semua bertanya-tanya. Ada rasa penyesalan di benak kami. Kami juga memang salah. Maafkan kami, pak. Eh, ternyata sembilan hari setelah peristiwa itu bapak dagang



 

 

cilok ini datang kembali dengan senyum berseri-seri seoalah olah sudah move on dan siap bangkit berjualan lagi.

Dan beberapa tahun kemudian kami baru sadar kalau selama ini bapak dagang cilok ini menjual es-nya dengan campuran air kran (air  mentah).  Pantas  saja  dia  selalu  mengambil  air  di  tetangga sebelah kirain mau nyiram tanah taunya untuk campuran es.