Chapter 9 - #TUKANG PIJAT
Waktu itu kenyataannya saya memang memiliki HP baru. Dan pulsa saya lumayan banyak. Sampai-sampai saya bingung mau hubungi siapa lagi ya karena semua nomer yang ada di kontak saya telah saya hubungi baik melalui pesan singkat maupun menelepon.
Saat berjalan-jalan mengendarai motor keliling kota Mataram, saya berhenti sejenak di warung kopi sambil memesan es jeruk. Saya berhenti bukan karena haus tapi karena melihat penjaga warung cantiknya bukan editan. Karena tahun segitu belum ada aplikasi tiga enam puluh apalagi aplikasi beauty plus. Ah... forgetlah. Sambil menikmati pedagang kopi....maksud saya sambil menikmati es jeruk, saya melihat ada tulisan yang berbunyi “Anda Pegal, segera hubungi kami” yang berada di atas pohon asem.
Saya pun mencoba menghubungi nomer yang tertera di atas pohon. Walaupun saya merasa tubuh saya tidak pegal, tak ada salahnya berinteraksi dengan tukang pijat. Begitu telpon saya diangkat, ternyata yang menjawab seorang laki-laki. Dengan suara yang gahar membuat saya berkesimpulan bahwa dia adalah seorang bapak-bapak dengan perawakan tinggi berkulit gelap. “Di mana alamatnya, pak?” tanya pak tukang pijat. Karena merasa pembicaraan tidak nyaman dan tidak sesuai ekspektasi, saya pun jadi grogi dan ketakutan. Tanpa sadar saya memberikan alamat rumah
teman saya yang berada sekitar seratus meter dari rumah saya. Sepuluh menit kemudian, bapak tukang pijat menelpon saya mengabari kalau dia sudah berada di depan pintu alamat yang saya berikan. Namun saya bilang ke bapak tukang pijat kalau saya masih ada urusan sebentar. Saya jadi nampak kebingungan dan gelisah. Bapak tukang pijat terus menerus menelpon saya. Sampai akhirnya dia bosan menunggu dan marah-marah. “Kamu mau mempermainkan saya, ya! Saya lacak nomermu.”
Seketika itu saya matikan telpon. Lalu berkonsultasi ke teman saya prihal kejadian ini. Teman saya hanya tertawa melihat saya yang ketakutan dan gelisah karena takut dicari ke rumah. #kapok.