Chapter 8 - #SAYUR KELOR
Saya lupa tahun berapa tapi saya tak kan pernah lupakan kisah ini. Buktinya saya menulisnya sekarang. Waktu itu saya dan gerombolan teman-teman berencana menginvasi rumah kosong dengan halaman yang sangat luas. Di sana terdapat beraneka ragam buah-buahan yang tumbuh subur disertai sayur mayur yang menolak mati. Eksistensi mereka pun sempat dipertanyakan. Mengapa tumbuh-tumbuhan ini begitu rapi seakan ada orang yang merawatnya. Padahal bila dilihat sehari-hari tak ada orang yang memasuki rumah ini selain gerombolan saya. Penjaga rumah ini pun tak ada. Rumah ini sudah cukup lama tak ditempati manusia. Kalau mahluk yang lainnya ya... pasti ada. Buah buahan yang terdiri dari “pisang, nanas, anggur, rambutan, kelapa, jambu, klengkeng, pepaya, sirsak, dan sayuran bersinergi di sini demi kepentingan umat manusia. Teman-teman yang lain sudah memasuki rumah ini dengan tembok yang cukup tinggi. Namun saya masih asyik enjoy di atas pohon kelor.
“Ayo cepat masuk,” kata teman saya memanggil saya untuk segera masuk. Namun saya masih selow bersama pohon kelor. Tak lama kemudian perasaan saya tidak enak. Angin begitu kencang. Saya bermaksud ingin turun tapi apa daya saya keburu jatuh dari pohon kelor! Dan hingga saat ini dinamai “tragedi kelor“ oleh teman- teman saya.
Ketika saya jatuh dari kelor dengan ketinggian tiga meter saya merasa ini akhir dari hidup saya. namun Tuhan berkehendak lain. Saya pun masih selamat. Saya terhimpit oleh seng dan kayu-kayu yang ada di samping garasi. Pohon kelor ini berada di samping garasi bersebelahan dengan tembok rumah kosong.
Yang punya pohon kelor ini adalah teman saya. Namun dia lagi
berada di jogja sehingga tidak ada dalam misi kami ke rumah kosong. Rumah teman saya yang punya kelor ini persis di depan rumah
kosong. Saya bermaksud ingin memetik kelor untuk dimasak bersama teman-teman. Namun ceritanya berbeda. Saya terjatuh membuat ayahnya teman saya menjadi kaget dan keluar rumah sambil mengeluarkan kata kata mutiara papan atas! “Woy, monyet...kamu ya!” Saya di kejar oleh ayahnya teman saya! Tapi saya belok ke kiri ke gang sempit dan ayahnya teman saya lolos. Begitu saya sampai di gang dan itu ternyata rumahnya pak Gde Tingkat yang lagi asyik mencabut rumput. “Kenapa kok ngos-ngosan,” tanya Pak Gde. “Saya lagi latihan lari untuk menyambut tujuh belasan, Pak! “ jawab saya singkat lalu berlari pulang lewat jalan pintas.
Sesampainya di rumah, orang-orang sudah berkerumunan memadati rumah saya. Pokoknya ramailah. Ayah saya yang baru pulang dari kantor menghampiri saya dengan nada lirih. “Katanya kamu jatuh dari pohon kelor, ya?”
“Iya, pak,” jawab saya sambil berharap ada lembaran duit yang diberikan. Namun apa daya justru tamparan selai nanas mendarat di pipi saya. “Goblok kamu! Kamu tau kan pohon kelor batangnya renyah, kenapa kamu naik.” Mendengar apa yang barusan terucap membuat saya kaget dan sedih. Saya pun kabur selama setengah hari.
Dan tersiar kabar kalau ikan goreng mamanya teman saya jadi gosong karena kaget, dan waktu itu ia ikut keluar rumah saat peristiwa kelor. Mamanya teman saya lagi goreng ikan.
Dan selama satu bulan saya tak berani ke rumah teman saya yang punya pohon kelor.