Buku YA AMPUN

Chapter 7 - #JUAL KORAN BEKAS

Sidzia Madvox2024/02/24 08:19
Follow

Kebetulan waktu itu saya lagi nggak ada duit. Bukan kebetulan sih sebenarnya tapi sering malah. Dan waktu itu Hari Sabtu yang di mana akan menuju Malam Minggu. Berpikir bagaimana caranya party nanti malam tapi duit belum cair. Saya pun memutuskan menjual koran-koran kadaluarsa yang sudah tidak terpakai yang berserakan di lemari. Saya lalu menjualnya ke pengepul setelah dibungkus rapi dengan kardus.

Setelah dihitung-hitung, ini kali ketiganya saya menjual koran-

 

koran. Kebetulan tempat pengepul berada tak jauh dari lingkungan tempat saya tinggal sekitar 500 meter. Dengan berjalan kaki saya yakinkan diri ini pasti akan mendapat duit banyak. Namun saya berpikir lagi, berat koran-koran bekas ini hanya lima kilo, sepertinya masih kurang. Saya pun mendapat inspirasi mendadak dengan memasukan   bata   dan   batu   ke   dalam   kardus   agar   beratnya bertambah.  Dan     saya  perkirakan  bertambah  sekitar  lima  kilo sehingga menjadi sepuluh kilo. Dengan percaya diri saya berjalan menuju pengepul. Di tengah perjalanan ada teman saya bertanya,

”mau mudik ke mana?”

 

“Saya mau jual koran-koran bekas,” jawab saya.

 

Mendengar  hal  itu,  teman  saya  dengan  semangat  dan bergairah menawarkan dirinya untuk membantu saya membawa barang bawaan saya ke atas motornya. Saya yang awalnya ogah dan ragu karena pasti hasilnya akan dibagi akhirnya menerima tawaran teman saya ini.   Sesampainya saya di tempat pengepul, perasaan



 

 

saya sudah tidak enak. Ternyata yang memeriksa istrinya. Istrinya membongkar isi dalam kardus. Kalau suaminya jarang. Dan kebetulan suaminya lagi tidak ada di sana. Saya yang merasa misi saya ini gagal langsung pergi  sambil mengintip di semak semak.

Teman saya yang lagi asyik main HP di atas motornya ini tak menyadari kalau saya sudah meninggalkannya. Setelah diperiksa- periksa, terlihatlah batu bata yang bersemayam di bawah tumpukan koran-koran. Melihat hal itu istri pengepul lalu mengeluarkan kata kata mutiara tiada tara, “Jad*h jamaq kanaq no, mangkat batu bate te toloq leq dalem kardus.”

“Kamu epe batur no,” tanya istri pengepul kepada teman saya. Teman saya yang nampak kebingungan plus ketakutan celingak celinguk menyadari saya sudah tak ada di tempat.

Saya yang menyaksikan kepanikan dan kebingungan teman saya hanya bisa cekikikan dari balik semak semak. Gagal!

Hikmah yang bisa dipetik dari sini adalah Tuhan selalu sayang sama umatnya sehingga dijauhkan dari perila kucurang. Dan itu dosa pastinya tidak berkah.Nggak lagi-lagi deh.Sory sory