Chapter 4 - #SARAPAN
Waktu itu bulan puasa, dan teman saya bermaksud mengajak saya untuk sarapan (batalin puasa) karena ia merasa tidak kuat untuk puasa dengan alasan belum sahur. Padahal baru menunjukkan pukul 9 pagi. Tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan ajakan sensasional dari teman saya ini. Setibanya saya di warung, ternyata teman saya belum menunjukkan batang hidungnya. Saya pun memesan duluan makanan sembari menunggunya. Pelayan warung memberikan saya kupon senilai lima belas ribu lalu menyuruh saya untuk memilih lauknya.
Pertama kalinya saya ke warung ini dan merasa pelayanan
serta harganya begitu murah sekali. Berbagai macam lauk saya sikat mulai dari paru, telur, udang, tongkol, ayam, cumi, tempe, tumis kangkung, dan minumnya es teh.
Sekitar dua puluh menit saya menanti tak kunjung datang teman saya itu. Saya mencoba menghubungi dia ternyata saya lupa membawa handphone. Perasaan saya sudah tidak enak dan gelisah karena cukup lama menanti kehadirannya. Saya pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Saya merasa dikerjain sama teman saya. Begitu saya mau membayar, eh ternyata di dompet uang saya tidak ada! Perut yang tadinya kenyang berubah jadi mules tak karuan. Saya pun bertanya ke mbak pelayan, “semuanya lima belas ribu ya, mbak.”
Mbak pelayan tak menjawab dan justru mengambil kalkulator.
“Semuanya 39 ribu, mas!” Mendengar hal itu saya pun kembali sakit perut dan benar benar sakit perut sekaligus marah kepada teman saya seraya mengucapkan kata kata mutiara.
Saya pun mengalah dengan menyerahkan KTP saya sebagai jaminannya.Keesokan harinya teman saya yang satuan mengajak saya untuk makan diwarung lagi tapi saya menolaknya (kapok)