Chapter 3 - #BELI MOTOR
Sekitar tahun 2015 saya membeli sebuah motor tua (kakeknya motor) yang bermerk dan tipe Suzuki A 100 seharga tujuh ratus ribu rupiah yang saya beli dari teman saya bernama Emet. Ketika saya membeli motor ini sudah dibentuk cafe racer sekitar lima puluh persen oleh teman saya.
Dan setelah resmi saya memilikinya sepenuh hati, saya pun
tak sabar untuk mempreteli dan memodifikasinya lagi. Keesokan harinya saya membawanya ke bengkel untuk menghidupkan mesinnya karena hampir sebulan lamanya tak pernah dihidupkan. Sebelum saya mulai memodifikasinya, tak lupa saya ucapkan puji syukur kepada pemilik alam semesta agar segala urusan di permudah termasuk proses modifikasi motor ini. Dan ternyata motor ini masih hidup sehingga bisa dikendarai. Saya pun beralih ke toko asesoris motor untuk membeli kebutuhan motor ini. Di tengah perjalanan menuju toko asesoris, motor ini melepaskan knalpotnya yang membuat saya tak kuasa untuk mengeluarkan kata-kata mutiara. Satu demi satu umpatan terlontar dari mulut saya yang di mana di pagi hari itu belum mencicipi kopi sedikit pun. Untuk mengakalinya saya memasang tali rafia untuk mengikat knalpot ini. Beli asesoris pun saya urungkan hari itu karena saya memilih untuk membawanya pulang motor ini sekaligus memberinya wejangan.
Sesampainya di rumah saya sudah disambut hinaan oleh
Mama saya yang cantik. “Besi tua lagi dibawa pulang! Bikin sarang
nyamuk aja!” Mendengar hal itu saya hampir menitikkan air mata kesedihan. Dalam hati saya berkata, ”apakah ini cobaan?“
Mungkin juga ini adalah ujian dari sang pencipta apakah saya benar-benar tulus merawat dan menyayangi motor ini. Keesokan harinya saya membawa motor ini kembali ke bengkel dengan bantuan tukang ojek untuk digeret. Setibanya di bengkel, beragam penyakit telah bersarang di tubuh motor ini. Mendengar hal itu saya pun tak kuasa menahan keringat yang bercucuran deras yang mewakili air mata saya. Sempat pasrah namun saya tak menyerah. Memang banyak penyakit tak terduga yang ada di motor ini. Entah sudah berapa duit habis untuk membiayai pengobatan motor ini.
Setelah kondisinya agak lumayan, saya pun mengecat motor ini dengan pylox seminggu sekali yang membuatnya berubah warna. Motor ini bernama Rocky. Motor ini banyak kisahnya. Pernah waktu itu hari Minggu saya diajak jalan-jalan oleh teman saya ke acara motor di area Senggigi. Saya yang awalnya tak mau ikut karena malu akhirnya pergi juga setelah diberi semangat oleh teman saya. Setibanya di lokasi acara, saya memarkir motor saya di semak-semak agar tak terlihat oleh yang lainnya karena motor saya ini kurang bagus dari segi segalanya.
Karena cuaca yang mulai mendung dan turun hujan, saya pun memutuskan untuk pulang lebih awal. Saya pun memacu motor saya dengan kecepatan maksimal 80 KM/Jam. Pas sampai di turunan saya lupa kalau rem motor saya ini blong! Dalam hati saya baca do’a, semoga baik baik saja. Kondisi jalan yang ramai membuat saya tak punya pilihan selain menjatuhkan diri saya kearah kiri dan mencoba mengerem dengan mengunakan kaki saya. Dari pada ambil resiko nabrak mobil di sebelah, saya pun merelakan motor saya nyungsep
ke semak belukar. Seketika motor ini mesinnya mati. Berkali-kali saya coba starter namun tak mau hidup. Saya pun dipaksa untuk menuntunnya. Hujan pun turun dengan derasnya menyebabkan baju saya habis dipenuhi lumpur. Ini dikarenakan motor saya tak memiliki spakbor depan belakang. Alhasil mandi lumpur deh.
Sambil menuntun motor, saya mencari tempat yang sepi. Dan di sana saya berbicara empat mata dengan motor saya walau saya tau dia tak memiliki mata. “Hey, motor... saya buang dah kamu di sini ya! Capek saya dorong kamu!” Setelah puluhan kali saya starter dan coba lagi akhirnya motor ini mau juga hidup! Dan di situ saya mengucapkan syukur kepada sang pencipta sehingga saya bisa pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, saya memandikan motor ini karena habis dipenuhi lumpur. Di depan saya sudah berdiri tetangga saya sambil berkata, “percuma dimandiin tetap aja nggak mengkilat.” Mendengar hal itu saya sempat emosi namun saya coba untuk bersabar dan memakluminya. Keesokan harinya saya membawa motor ini ke tempat kerja sekaligus untuk memperkenalkan motor ini ke teman-teman saya. Namun apa daya sambutannya justru membuat saya kembali emosi. Ada teman saya yang mengatakan motor ini odong-odong dan ada juga yang mau menukarnya dengan HP senilai seratus ribu. Bahkan ada yang menyuruh saya untuk membawa motor ini ke getap untuk dibuat menjadi pisau. Di situ kesabaran saya diuji untuk kesekian kalinya. Saya akui memang motor ini jelek dan bahkan sering disumpahin orang-orang karena suara yang dihasilkan dari knalpot motor ini tidak enak didengar alias mengganggu telinga. Bising, berisik dan cempreng. Banyak juga yang
mendo’akan motor saya agar mogok terus. #sabar.
Dan pernah suatu hari saya membawa motor ini berpetualang ke pantai Kuta bersama teman saya. Kami berdua hanya bermodalkan do’a agar sampai dengan selamat saat pergi maupun pulang. Yeah, motor ini akhinya bisa juga sampai di pantai kuta Lombok. Dan setelah puas menikmati pemandangan pantai, kami berdua memutuskan untuk pulang ke rumah karena hari sudah sore. Di tengah perjalanan pulang terdengar suara aneh. Awalnya saya pikir suara pesawat. maklum posisi kami tepat berada di depan Bandara Internasional Lombok (BIL).
Setelah saya periksa ternyata knalpot motor ini lepas. Seketika saya mencoba mengangkat knalpot ini. Dan bodohnya, saya lupa kalau knalpot motor ini masih panas. Alhasil hujatan dan makian terucap dari mulut ini. Dan masih untung saya membawa kain lap yang kemudian saya jadikan tali pengikat knalpot sambil berharap bisa bertahan sampai di Mataram. Setelah diteliti ternyata penyebab lepasnya knalpot motor ini adalah teman saya yang begitu enjoy menginjak knalpotnya sehingga mengakibatkan knalpot melepaskan diri dari motor ini. Kisah sedih di Hari Minggu.
Dan kembali lagi hari senin menyapa. Saya buru-buru
berangkat kerja bukan karena mau upacara melainkan karena hari itu saya gajian. Pukul delapan pagi saya berangkat menuju kantor, eh tau-taunya ada razia! Saya yang awalnya slow-slow aja jadi panik karena pak Polisi menilang saya dan menyuruh saya untuk menepi dan masuk ke dalam Polsek yang di mana sebagai tempat lokasi razia. Saya curiga Pak polisi menilang saya pasti karena plat kendaraan saya yang menggunakan nama saya yakni “S 1DZ IA“, membuat pak polisi ingin bertanya-tanya. Dalam hati saya berkata, “pasti dah keluar lima puluh ribu nih.”
Pertanyaan demi pertanyaan mulai terlontarkan dari Pak Polisi. “apa jenis motor ini, apa nama motor ini, mana STNK, mana BPKB, mana SIM-nya.”
Saya pun mengeluarkan STNK Motor ini dan pak polisi pun mulai mencatat apa yag perlu dicatat. Tak lama kemudian ada seorang wanita yang terjaring razia. Ia pun berbicara dengan Pak Polisi yang menilang saya. Saya pun mengambil STNK dan SIM saya yang berada di meja. Pelan-pelan saya geret motor saya keluar lalu saya mendorongnya dan motor ini pun hidup. Saya pun berhasil melarikan diri dan tak jadi mengeluarkan uang.
Setibanya di kantor saya melihat STNK ini. Betapa kagetnya saya kalau ternyata STNK ini adalah milik motor Mio. Waktu pertama kali beli motor ini saya tak terlalu peduli mau ada atau tidak ada STNK-nya. Dalam hati saya berkata, “berarti Pak Polisi yang tadi tidak membaca atau tidak tau juga kalau STNK-nya adalah motor Mio. Tumben saya ditilang menggunakan motor ini karena biasanya kalau ada razia motor ini selalu diberikan jalan alias tidak dipedulikan karena mungkin dianggap sepeda.
Dan kini motor ini telah menjadi kenangan karena sudah saya
jual seharga empat ratus lima puluh ribu rupiah ke teman saya. Dan tersiar kabar kalau motor ini sudah di-cannibal oleh teman saya.