Chapter 2 - #BURUNG
Sampai detik ini saya tidak habis pikir karena saya terus berpikir kenapa jenis kelamin pria itu sering sekali disebut burung. Pernah saya berbelanja di pusat perbelanjaan, sebut saja pasar, yang di mana berbagai macam kebutuhan rumah tangga ada di sana, termasuk kancut, BH dan kawan-kawan berkolaborasi di sana. Saya yang waktu itu nampak dilema dan lapar karena banyak sekali hal yang membuat saya harus menghela napas panjang dan menghentikan langkah sejenak sambil melihat handphone. Saya yang berada di tengah-tengah mbak-mbak cantik yang ternyata fokus berjualan pakaian dalam. Mbak-mbak pedagang cantik yang terdiri dari empat orang itu memberi senyum kepada saya seraya tertawa kecil. Saya yang melihat wajah cengengesan mereka meresponnya dengan kebingungan. Dalam hati saya berkata “apakah ini kode” mbak-mbak berambut pirang tersenyum sambil berkata, “mas, tokonya kebuka, awas burungnya terbang.“
Saya yang nampak kebingungan dan semakin terheran-heran dibuatnya. Dalam hati saya berkata lagi, “yang jualan siapa yang kebuka tokonya siapa.“ Eh ternyata setelah saya sadari tau taunya resleting celana saya kebuka sehingga ingin membuat si ular berkeliaran. Saya yang awalnya malu justru tambah semangat mengompori mbak-mbak ini sambil mendemonstrasikan kepiawaian ular saya. Mereka pun malu-malu-mau (menurut saya) dan berhamburan pergi sambil menutup wajah mereka dengan kedua tangan namun dibuka dan ditutup lagi. Saya pun berharap ada salah
satu di antara mereka yang bisa saya bawa pulang. Karena kelelahan menjerit histeris, mbak-mbak ini pun menyerah dan minta maaf sambil tersenyum centil. saya pun kembali menjelaskan kepada mereka kalau ini bukan burung tapi ular, mbak. Kalau boleh saya memberi istilah, harusnya bukan burung tetapi ular. Karena ANU saya ini lebih mirip ular dengan jenis sanca kembang. kalau bahasa latinnya Sancanus Flowernicus. Dengan sfesifikasi berat dan panjang yang fleksibel tergantung gangguan yang diterima. Namun apabila ia dielus dan dibelai secara halus lembut dan penuh kasih sayang, maka ia akan bangun dan berdiri secara perlahan sebagai bentuk rasa hormat kepada si pengelus. Medan pertempurannya pun bisa di lahan gersang mau pun basah dan semak belukar.