
Konseling anak yang membutuhkan dukungan sosial merupakan sebuah proses bimbingan psikologis yang ditujukan untuk membantu anak-anak yang mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan memperoleh dukungan dari lingkungannya. Dukungan sosial merupakan faktor penting dalam perkembangan anak, karena dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis dan kemampuan mereka dalam mengatasi stres dan tantangan kehidupan.
Studi ini bertujuan untuk menjelaskan peran konseling dalam memberikan dukungan sosial kepada anak-anak yang membutuhkannya. Metode konseling yang digunakan mencakup pengenalan dan pemahaman tentang pentingnya hubungan sosial, pengembangan keterampilan komunikasi interpersonal, peningkatan rasa percaya diri, dan penguatan jejaring sosial.
Dalam konseling, terapis akan bekerja sama dengan anak untuk mengidentifikasi masalah-masalah sosial yang dihadapinya, seperti isolasi sosial, konflik dengan teman sebaya, atau kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru. Terapis akan menggunakan berbagai teknik terapeutik, seperti role-playing, observasi, dan diskusi kelompok, untuk membantu anak mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling yang fokus pada dukungan sosial dapat memberikan manfaat signifikan bagi anak-anak. Anak-anak yang menerima konseling sering kali mengalami peningkatan dalam kemampuan berinteraksi sosial, mengurangi tingkat kecemasan dan depresi, serta meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.
Kesimpulannya, konseling anak yang membutuhkan dukungan sosial dapat menjadi alat yang efektif untuk membantu anak-anak mengatasi kesulitan sosial dan memperoleh dukungan yang mereka butuhkan. Konseling ini bertujuan untuk membantu anak membangun hubungan sosial yang sehat, meningkatkan keterampilan komunikasi, dan memperkuat rasa percaya diri mereka. Dengan dukungan yang tepat, anak-anak dapat mengembangkan kemampuan sosial yang kuat dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik.
Konseling ini mengunakan pendekatan behavioristik, Steven Jay Lynn dan John P. Garske (1985) menyebutkan bahwa di kalangan konselor/psikolog, teori dan pendekatan behavior sering disebut sebagai modifikasi perilaku (behavior modification) dan terapi perilaku (behavior therapy), sedangkan menurut Carlton E. Beck (1971) istilah ini dikenal dengan behavior therapy, behavior counseling, reinforcement therapy, behavior modification, contingency management. Istilah pendekatan behavior pertama kali digunakan oleh Lindzey pada tahun 1954 dan kemudian lebih dikenalkan oleh Lazarus pada tahun 1958. Istilah pendekatan tingkah laku lebih dikenal di Inggris sedangkan di Amerika Serikat lebih terkenal dengan istilah behavior modification. Di kedua negara tersebut pendekatan tingkah laku terjadi secara bersamaan. Peristiwa penting dalam salah satu sejarah perkembangan behavioristik adalah dipublikasikannya tulisan seorang psikolog Inggris yaitu H.J. Eysenck tentang terapi behavior pada tahun 1952. Di bawah pimpinan H.J. Eysenck, Jurusan Psikologi di Institut Psikiatri memiliki dua bidang yaitu bidang penelitian dan bidang pengajaran klinis. Bidang penelitian lebih mengembangkan dimensi tingkah laku untuk menjelaskan abnormalitas tingkah laku yang dirumuskan oleh Eysenck, sedangkan dalam bidang pengajaran klinis menyelenggarakan latihan bagi sarjana-sarjana psikologi klinis. Dalam tahap awal perkembangannya batasan pendekatan behavior diberikan sebagai aplikasi teori belajar modern pada perlakuan masalah-masalah klinis. B.F. Skinner pada tahun 1953 menulis buku Science and Human Behavior, menjelaskan tentang peranan dari teori operant conditioning di dalam perilaku manusia. Pendekatan behavior merupakan pendekatan yang berkembang secara logis dari keseluruhan sejarah psikologi eksperimental.
Eksperimen Pavlov dengan classical conditioning dan Bekhterev dengan instrumental conditioning-nya memberikan pengaruh besar terhadap pendekatan behavior. Pavlov mengungkapkan berbagai kegunaan teori dan tekniknya dalam memecahkan masalah tingkah laku abnormal seperti hysteria, obsessionel neurosis dan paranois. Perkembangan ini diperkuat dengan tulisan dari Joseph Wolpe (1958) dalam bukunya Psychotherapy by Reciprocal Inhibition yang menginterpretasi dari perilaku neurotis manusia dengan inspirasi dari Pavlovian dan Hullian serta memberikan rekomendasi teknik khusus 3 dalam terapi behavior yaitu desentisisasi sistematis (systematic desensitization) dan pelatihan asertivitas (assertiveness training). Pada tahun 1960-an muncul gagasan baru yang mengemukakan tentang terapi behavior dan neurosis oleh Eysenck yang pada akhirnya berpengaruh besar pada Principles of Behavior Modification dari Bandura (1969).
Tujuan Konseling Behaviouristik yaitu:
1.Menghapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untuk digantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien
2.Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien; (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut; (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut; (d) dirumuskan secara spesifik
3.Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. (Widyastitiafiani, 2014)
4.Analisis konseling behavioristik menekankan pada kebiasaan yang dilakukan terus menerus hingga menjadi suatu perilaku tetap (Umul sakinah, 2018).
Proses Konsling
Pendahuluan dan pemahaman:
Terapis membantu anak Anda memahami pentingnya dukungan sosial dalam hidupnya. Mereka menjelaskan bahwa dukungan sosial meliputi hubungan dengan keluarga, teman dan masyarakat yang dapat memberikan dukungan emosional, informasi dan bantuan praktis.
Mengenali masalah sosial:
konselor bekerja dengan anak untuk mengidentifikasi potensi masalah sosial, mis. B. isolasi sosial, kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya, atau kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Mengembangkan keterampilan sosial:
Terapis akan membantu anak Anda mengembangkan keterampilan komunikasi antarpribadi seperti B. Mendengarkan dengan empati, berbicara dengan jelas, dan memahami isyarat nonverbal. Melalui permainan peran, latihan, dan simulasi, anak-anak dapat belajar mengelola konflik, membangun hubungan yang sehat, dan memecahkan masalah sosial. Memperkuat jaringan sosial:
Seorang terapis membantu anak Anda memperluas jaringan sosial mereka dan mencari dukungan dari orang-orang yang dapat membantu mereka. Ini mungkin termasuk memperkenalkan Anda kepada teman baru, klub atau kegiatan ekstrakurikuler atau sumber komunitas terkait.
Manfaat Konseling:
Konseling yang fokus pada dukungan sosial dapat memberikan manfaat signifikan bagi anak-anak yang membutuhkannya. Beberapa manfaat konseling ini meliputi:
Peningkatan keterampilan sosial: Anak-anak dapat mengembangkan keterampilan komunikasi yang lebih baik, belajar berbagi, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik dengan lebih efektif.
Pengurangan kecemasan dan depresi: Dengan adanya dukungan sosial yang memadai, anak-anak dapat merasa lebih aman, lebih termotivasi, dan kurang rentan terhadap masalah kecemasan dan depresi.
Peningkatan kualitas hidup: Dukungan sosial yang diperoleh melalui konseling dapat meningkatkan kualitas hidup anak-anak secara keseluruhan. Mereka dapat merasa lebih bahagia, lebih termotivasi dalam mencapai tujuan mereka, dan lebih mampu mengatasi kesulitan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan:
Konseling anak yang membutuhkan dukungan sosial memiliki peran penting dalam membantu anak-anak mengatasi kesulitan sosial dan memperoleh dukungan yang mereka butuhkan. Melalui konseling, anak-anak dapat belajar keterampilan sosial yang kuat, mengembangkan hubungan yang sehat, dan memperkuat rasa percaya diri mereka. Dukungan sosial yang memadai memberikan dasar yang kuat bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang menjadi individu yang percaya diri dan sehat secara emosional.
Dalam konseling, terapis bekerja dengan anak-anak untuk mengidentifikasi masalah-masalah sosial yang dihadapi, mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal, dan memperluas jejaring sosial mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling yang fokus pada dukungan sosial dapat memberikan manfaat signifikan, termasuk peningkatan keterampilan sosial, pengurangan kecemasan dan depresi, serta peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan.
Dengan demikian, konseling anak yang membutuhkan dukungan sosial dapat menjadi alat yang efektif dalam membantu anak-anak menghadapi tantangan sosial dan memperoleh dukungan yang mereka butuhkan. Konseling ini bertujuan untuk membantu anak-anak membangun hubungan sosial yang sehat, meningkatkan keterampilan komunikasi, dan memperkuat rasa percaya diri mereka. Dengan dukungan yang tepat, anak-anak dapat mengembangkan kemampuan sosial yang kuat dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik.
0 comments
Be the first to comment!
This post is waiting for your feedback.
Share your thoughts and join the conversation.