Chapter 40 - #DISURUH BELI SOTO
Guru saya banyak yang galak. Namun untuk yang satu ini galaknya kurang elegan menurut saya. Dia Bernama Pak Sumardi, guru mata pelajaran PMP. Ketika jam istirahat tiba, beliau menyuruh saya untuk membelikannya soto di kantin sekolah. Saya pun diberikan uang sebesar lima ribu rupiah.
Ketika saya berjalan menuju kantin, tiba-tiba teman saya memanggil. Teman saya yang bernama Wendy ini ternyata baru masuk sekolah karena beberapa hari lalu sempat mengalami sakit yang bernama Maag. Penyakit yang sangat mainstream. Banyak tutorial yang dia ceritakan seputar saat pertama mengalami sakit hingga kesembuhannya. Dari segi ekonomi, Wendy ini tergolong cukup mapan. Karena terlahir dari keluarga yang sangat berada. Bila ingin makan yang enak-enak dan mewah, selalu tersaji di meja makannya. Namun itu tak menjadi jaminan. Di balik kekayaannya, ia masih tak merasa bahagia karena ada saja masalah yang dialaminya sehingga menguras energi dan pikirannya. Dan itu yang membuatnya stress hingga sakit Maag. Semua berawal dari pikiran.
Wendy ini mantan teman sekelas saya. Namun karena dia pintar dan baik, ia pun dipindahkan ke kelas A. Saya sendiri masih bertahan di kelas C. Oke, saya tak ingin membahas kelas-kelasan karena di mata Tuhan kita semua sama.
Setelah lima menit bercuap cuap, akhirnya Wendy pergi menuju ruang BK yang di mana ibu guru sudah menantinya. Entah ingin konferensi pers atas kesembuhannya atau ada urusan lain. Yang jelas saya tidak mau tau. Apa yang dicurhatkan oleh Wendy
barusan justru membuat saya menjadi Maag. Seakan-akan Wendy mentransfer penyakitnya ke saya. Tapi sepertinya tidak.
Tak lama setelah Wendy meninggalkan saya, bel berbunyi tiga kali itu menandakan jam istirahat kedua telah usai. Semua murid masuk ke dalam kelas. Saya masih terpaku, terhenyak karena merasa ada yang ganjal. Namun saya singkirkan sejenak. Tak sengaja saya merogoh saku celana ternyata ada uang lima ribu. Saya terheran- heran, kok tiba-tiba ada uang di saku celana saya. Padahal uang saku saya sudah pakai bayar baju olahraga. Tanpa pikir Panjang saya pun langsung membelikannya soto dan es.
Sepuluh menit sudah saya berada di kantin, kini saatnya masuk kelas. Di dalam kelas murid-murid sudah siap menghadapi pelajaran yang ternyata mata pelajaran PMP. Bulu kuduk saya seketika berdiri. Tiba-tiba saya merasa gelisah dan keluar keringat dingin. “Tadi saya menyuruh salah satu murid untuk membeli soto tapi sampai sekarang belum datang-datang,” mendengar apa yang didiucapkan Pak Guru PMP itu membuat saya langsung tersadar, ternyata saya tadi disuruh beli soto. Semua mata tertuju pada saya.
“Mungkin dia lupa. Tapi tidak apa-apa. Kalau begitu, mari kita
lanjutkan pembahasan minggu lalu.”
Saya tertunduk lesu dan merasa bersalah. Selesai mata pelajaran PMP, saya langsung menemui pak Sumardi untuk meminta maaf atas kekhilafan saya. Dan Pak Guru pun memaklumi saya serta memberikan maaf.