Chapter 149
Suara berdering dari handphone milik Vero membuyarkan lamunan. “Mama?! Tumben nelepon.”
“Halo…Mama, apa kabar?!” sapa Vero dengan penuh kegembiraan.
“Baik, Ver.”
Vero lalu mengubah mode telepon menjadi video call
agar mereka dapat melihat wajah satu sama lain. “Halo, Ma. Ini aku lagi sama Fania di pantai!” “Fan, ini mama. Sapa dong!”
“Halo, Budeku yang cantik apa kabar?” tampak Fania begitu sumringah.
“Baik, Fan. Gimana di Lombok? Kamu betah nggak?” “Hehe. Iya, Bude. Aku senang banget lho tinggal di
Lombok. Ini lagi di pantai. Bagus banget pantainya,”
jawab Fania dengan logat Jawanya yang medok.
“Kamu sama kakakmu jaga diri baik-baik ya! Bude kemungkinan pulang ke Lombok empat bulan lagi. Soalnya pakdemu lagi urus kebun. Ada kebunnya yang mau dibeli sama orang Jepang.”