Chapter 118
Fania yang mengenakan kaos hitam lengan pendek dipadukan celana jeans pendek berwarna biru muda beserta sneakers dengan rambut terurai berwarna cokelat dan kulitnya bersih mulus membuat Pak Musam kesengsem. ‘Hampir aja aku khilaf. Untung imanku masih kuat,’ Pak Musam membatin.
Fania yang semalam tak bisa tidur akhirnya menikmati istirahatnya di mobil. Sekitar dua jam perjalanan dari Pelabuhan Poto Tano mereka pun tiba di Sumbawa Besar.
“Mbak! Mbak Fania, bangun, Mbak. Maaf, Mbak, kita
sudah sampai!”
“Sampai mana, Pak? Sumbawa Besar ya?” tanya Fania
sambil menguap.
“Iya, Mbak. Sumbawa Besar. Cuma saya nggak tahu
harus ke mana lagi.”
“Bentar, Pak. Saya telepon Ibu Netty dulu ya,” Fania mengambil HP dari tasnya. “Astaga, ternyata beliau sudah WhatsApp dari tadi.”
“Halo! Bu Netty lagi di mana posisi?”
“Hai, Mbak Fania. Tadi saya WhatsApp Mbak Fania. Saya di Jalan Garuda dekat bandara. Mbak Fania sudah sampai Sumbawa-kah?”