The "Do-It-All" Girl Syndrome: Mengenal Gender-Specific Perfectionism pada Remaja Perempuan.


Salwa Azizah2026/06/05 02:49
フォロー
The "Do-It-All" Girl Syndrome: Mengenal Gender-Specific Perfectionism pada Remaja Perempuan.

Pernahkah kamu melihat seorang teman atau kenalan yang tampak sempurna dan memiliki segalanya? Atau mungkin seorang itu dalah kamu sendiri?  Nilai raport bagus, aktif organisasi, sering menang lomba, cantik dan bahkan media sosialnya terlihat aesthetic. Namun dibalik semua itu ada tekanan dan kecemasan yang tanpa sadar terus menghantui. Mungkin sekilas ini terlihat seperti sifat ambisius biasa, namun dilihat lebih dalam, ini adalaha fenomena dalam perkembangan remaja yang disebut Gender-Specific Perfectionism atau perfeksionisme spesifik gender, yakni sebuah kondisi di mana remaja perempuan merasa harus memenuhi standar tinggi di semua aspek kehidupan sekaligus. Di satu sisi, mereka didorong untuk mengejar karier dan prestasi akademik yang tinggi (menjadi perempuan modern). Di sisi lain, mereka tetap dibebani ekspektasi domestik tradisional dan standar penampilan fisik yang tidak realistis akibat media sosial.

 

Fenomena ini tidak jarang terjadi pada remaja perempuan disekitar kita. Meskipun pandangan terkait perempuan yang berprestasi dan berkarier sudah mulai terbuka bahkan banyak yang melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang keren dan membanggakan. Akan tetapi, norma budaya dan media kita masih menempatkan penampilan sebagai ciri utama dan nilai dari perempuan itu sendiri. Akhirnya kedua hal tersebut dipandang sebagai hal yang wajib dimiliki olah seorang perempuan yang dimana pada usia remaja sering menjadi awal diterpakannya standar terrsebut tersebut pada perempuan. Selain itu, penelitian mengatakan lebih banyak remaja perempuan berada di level perfectionisme sangat tinggi. Ditambah, Algoritma media sosial yang terus menyajikan standar atau trend yang disebut "that girl"/”it girl” trend,  dimana kecantikan, produktivitas dan gaya hidup yang tidak realistis dilihat sebagai sebuah kesempurnaan yang seharusnya kita terapkan sebagai perempuan modern. Sehingga, berbeda dengan remaja laki-laki yang sering kali dinilai dari satu aspek dominan (seperti prestasi olahraga, akademik atau game), remaja perempuan menghadapi standar ganda dimana mereka dituntut untuk cerdas di kelas, tetapi di saat yang sama harus tetap tampil 'manis' dan menjaga perasaan orang lain.

 

Hal ini dapat memberi dampak pada psikologis remaja putri seperti Impostor Sydrome sejak dini, Internalizing Behaviors dan Burnout secara akademik maupun emosional.

1.      Terjebak dalam Impostor Syndrome (Merasa Diri Penipu)

Sejak usia muda, remaja perempuan yang perfeksionis sering kali gagal menginternalisasi kesuksesan mereka sendiri. Ketika mendapatkan nilai bagus atau prestasi di sekolah mereka akan meragukan kemampuannya dan merasa tidak percaya itu karena kecerdasan mereka. Sering kali, mereka menganggapnya sebagai hoki (keberuntungan) atau karena mereka belajar sampai kelelahan. Mereka juga jadi hidup dalam kecemasan bahwa suatu hari orang lain baik itu guru, orang tua atau teman mereka akan menyadari bahwa mereka "tidak sepintar atau sehebat itu".

2.      Munculnya Internalizing Behaviors(perilaku internalisasi)

Internalizing behaviors adalah masalah psikologis di mana seseorang memproses stres dan emosi negatif di dalam dirinya sendiri, alih-alih meluapkannya keluar. Data meta-analisis pada usia 6–24 tahun mengonfirmasi bahwa kekhawatiran perfeksionistik (takut salah dan gagal) berkaitan erat dengan munculnya gejala depresi dan kecemasan ekstrem karena merasa standar mereka tidak pernah tercapai.

Spesifiknya pada remaja putri, perfeksionisme ini sering kali beralih ke bentuk fisik. Remaja putri menjadi sangat kritis terhadap tubuhnya (body dissatisfaction). Ini diperparah oleh standar kecantikan yang kaku dan tidak realistis di masyarakat dan media kita, sehingga untuk mengompensasi rasa tidak berdaya, mereka melakukan strategi makan kompulsif (seperti diet ekstrem, memuntahkan makanan, atau olahraga berlebihan) demi mendapatkan "bentuk tubuh yang sempurna" sesuai standar tersebut.

3.      Burnout Akademik dan Emosional Sejak Dini

Remaja perempuan yang menuntut dirinya tanpa cela di sekolah akan kehabisan energi psikologis (mengalami burnout) jauh sebelum mereka dewasa. Mereka mengalami kelelahan emosional yang hebat, mulai sinis terhadap sekolah, dan lama kelamaan merasa prestasi yang mereka raih tidak ada artinya lagi. Selain itu, karena takut hasil kerjanya tidak sempurna, mereka justru sering menunda-nunda tugas (prokrastinasi), yang akhirnya memicu stres lebih besar saat tenggat waktu mendekat.

Khususnya pada remaja dari kelompok tertentu (misalnya karena tekanan stereotip ras dan gender), mereka sering menolak untuk istirahat dan mengambil komitmen berlebihan demi pembuktian diri, bahkan sampai mengorbankan kesehatan fisik mereka.

 

Isu ini sering kali menjelma menjadi krisis yang tersembunyi (the hidden crisis) karena perilakunya tertutup oleh topeng prestasi. Di lingkungan sosial, manifestasi dari perfeksionisme maladaptif seperti ini jarang atau bahkan tidak dianggap sebagai sebuah gangguan mental, melainkan justru diberi penghargaan dan divalidasi secara positif. Remaja putri yang mengalaminya kerap dicap sebagai anak yang pintar, mandiri, atau murid teladan karena mereka tidak memicu masalah eksternal seperti pergaulan bebas, membolos, atau kenakalan remaja lainnya. Akibatnya, terjadi silent suffering atau penderitaan yang terjadi di dalam diri mereka, sehingga hal tersebut menjadi tidak terlihat dan terabaikan oleh orang tua maupun guru.

 

Sehingga kita semua perlu bersama-sama aware terhadap isu ini, karna ini adalah angkah awal untuk memutus dalam memutus rantai gender-specific perfectionism. Kita harus mulai peka dan menyadari bahwa mungkin terdapat tekanan psikologis yang sangat berat di balik sosok remaja putri yang tampak "sempurna" dan berprestasi. Menyadari fenomena ini berarti berhenti menormalisasi perilaku mengorbankan diri demi tuntutan sosial, serta mulai melihat tanda-tanda kecemasan yang tersembunyi di balik topeng predikat "anak rajin" atau "murid teladan". Hal ini juga berarti kita mulai berhenti menerapkan standar kecantikan yang “tidak masuk akal” di media sosial sebagai nilai dari perempuan dan berhenti mengomentari fisik, bentuk tubuh, atau berat badan mereka, baik sebagai pujian maupun kritikan. Ajarkan mereka untuk menghargai tubuh mereka atas apa yang bisa dilakukannya (seperti berjalan, bernapas, dan berkarya), bukan sekadar bagaimana tubuh itu terlihat di mata orang lain.

Ketika kesadaran ini telah terbentuk, solusi harus diterapkan secara dua arah, baik dari sisi remaja itu sendiri maupun dari lingkungan yang mendukungnya. Bagi remaja putri, langkah penyembuhan internal dimulai dengan belajar membedakan antara keinginan sehat untuk berkembang dan tuntutan  untuk menjadi sempurna tanpa batas. Mereka perlu dipandu untuk memahami bahwa mengejar target tinggi secara sehat tetap memberikan ruang untuk beristirahat dan memaafkan diri saat berbuat salah atau mengahadapi kegagalan, sementara perfeksionisme yang negatif hanya akan menyiksa batin. Guna memutus rantai kritik diri yang kejam, remaja putri harus dibantu untuk menumbuhkan rasa welas asih pada diri sendiri (self-compassion), yaitu kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan dan pengertian saat menghadapi kegagalan, layaknya menenangkan seorang sahabat. Di sisi lain, lingkungan sekitar terutama keluarga dan guru memegang peran sentral sebagai  support system utama. Orang dewasa di sekitar mereka harus mengubah cara memberikan apresiasi dengan mulai memuji proses, kerja keras, dan ketahanan emosional remaja, bukan sekadar memuja hasil akhir yang sempurna atau penampilan fisik mereka. Bentuk komunikasi ini penting untuk menanamkan pola pikir bahwa nilai seorang anak tidak ditentukan oleh nilai raport atau paras wajah. Lebih dari itu, lingkungan harus mampu menciptakan "ruang aman untuk gagal" (safe space to fail), di mana remaja perempuan tahu dan percaya bahwa ketika mereka melakukan kesalahan atau tidak mencapai target, mereka tidak akan dihakimi, ditolak, atau kehilangan kasih sayang, melainkan dirangkul untuk belajar kembali.

 

Sebagai akhir kata, kita harus dengan lantang menegaskan kembali sebuah kebenaran yang sering terlupakan. Remaja perempuan kita berhak untuk tidak menjadi sempurna. Mereka berhak untuk merasa lelah, berhak melakukan kesalahan, dan berhak dicintai tanpa harus terus-menerus memaksa diri demi memuaskan ekspektasi sosial. Mari kita buka mata dan hati untuk lebih peka terhadap silent cries dari remaja putri di sekitar kita yang mungkin sedang sekarat demi mengejar ilusi kesempurnaan dan validasi sosial. Berhentilah mengagumi kecemasan mereka sebagai bentuk kerajinan, dan berhentilah menilai harga diri mereka dari penampilan luar. Mengasihi mereka secara utuh berarti memberi mereka ruang aman untuk tumbuh, gagal, dan diterima apa adanya, karena nilai seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh angka di atas lembar ujian, ukuran pakaian, ataupun angka yang tertera di atas timbangan.

シェア - The "Do-It-All" Girl Syndrome: Mengenal Gender-Specific Perfectionism pada Remaja Perempuan.

Salwa Azizahさんをフォローして最新の投稿をチェックしよう!

フォロー

0 件のコメント

この投稿にコメントしよう!

この投稿にはまだコメントがありません。
ぜひあなたの声を聞かせてください。