KH. Agus Salim: “Hei Jawa bagar (Baqor)” panggil orang arab terhadap ulama NU di Mekkah.

KH. Agus Salim: “Hei Jawa bagar (Baqor)” panggil orang arab terhadap ulama NU di Mekkah.

Buku Mengenal Nahdlatul Ulama KH. Abdul Muchith Muzadi
diberikan saat memulai wawancara KH. Agus Salim, MM
Menimba Ilmu di Pusat Peradaban Islam, Pada akhir abad ke 18, Mekkah menjadi magnet bagi pencari ilmu dari seluruh dunia Islam. Setelah menikah dengan Nyai Khadijah, putri KH Ya’qub pengasuh Pesantren Siwalan Sidoarjo, KH Hasyim Asy’ari berangkat haji sekaligus menuntut ilmu ke tanah suci. Ia menetap di Mekkah selama kurang lebih tujuh tahun, dari 1893 hingga 1899. Di sana, ia belajar langsung kepada ulama besar seperti Syeikh Mahfudz al-Tarmasi, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan Syeikh Nawawi al-Bantani. Ketiga guru ini adalah otoritas keilmuan yang dihormati di Hijaz. Dari mereka, KH Hasyim Asy’ari mendalami fiqih mazhab Syafi’i, hadits, tafsir, dan tasawuf. Gelar Syaikhu al-Masyayikh atau gurunya para guru yang melekat pada dirinya kelak tidak lepas dari periode belajar intensif ini. Lingkungan akademik di Haramain saat itu didominasi ulama Arab, India, dan Afrika. Santri Nusantara dengan ciri khas sarung, kopiah putih, dan kitab kuning sering kali menjadi pemandangan yang asing. Praktik keagamaan seperti tahlil, maulid, dan ziarah kubur yang mereka bawa dianggap berbeda dari pemahaman sebagian ulama setempat. Dalam konteks inilah muncul sapaan “Ya Jawa, ya bagar” atau “Hei Jawa Bagar”. Kata baqar بقر dalam bahasa Arab memang berarti sapi. Sapaan itu awalnya bernada ejekan halus, menyindir santri Jawa yang dianggap lamban, kolot, dan terlalu kaku pada tradisi. Cerita hidup kuat dalam tradisi lisan pesantren Tebuireng dan diulang-ulang oleh para kiai generasi berikutnya. Bagi NU, kisah “Jawa Bagar” bukan sekadar anekdot. Ia menjadi penanda bahwa kehadiran ulama Nusantara di pusat Islam tidak pasif. Mereka membawa wacana, membawa mazhab, dan membawa tradisi yang pada akhirnya diakui.
Dari Ejekan Menjadi Pengakuan, Ketekunan KH Hasyim Asy’ari dalam belajar mengubah persepsi itu. Ia tidak hanya mampu menghafal dan memahami kitab-kitab besar, tetapi juga aktif mengajar di Masjidil Haram. Keilmuannya dalam hadits dan fiqih membuatnya dipercaya memberi ijazah kepada murid dari berbagai negara. “Setelah menunjukkan keahlian dalam bidang keilmuan agama dan umum, saat itulah ketokohannya diakui. Orang-orang takjub dengan keilmuan luar biasa yang dimiliki orang Jawa, bahkan Indonesia,” tutur KH Agus Salim. Pengakuan itu bukan sekadar formalitas akademik. Di mata ulama Timur Tengah, KH Hasyim Asy’ari menjadi representasi Islam Nusantara yang moderat, berakar pada mazhab Syafi’i, dan mampu berdialog dengan tradisi lokal. Ia membuktikan bahwa identitas kejawaan tidak bertentangan dengan keislaman universal.
Diplomasi Multazam untuk Kemerdekaan Bangsa, Peran KH Hasyim Asy’ari melampaui ruang. Dalam salah satu kunjungannya ke Mekkah, ia ikut serta dalam pertemuan ulama dari Afrika, Asia, dan Arab di Multazam. Pertemuan itu berlangsung pada bulan Ramadhan dan dihadiri tokoh-tokoh pergerakan dari negara yang masih terjajah. Dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU, dari pertemuan tersebut lahir kesepakatan untuk bersumpah di hadapan Multazam demi memperjuangkan kemerdekaan negara masing-masing. Isi kesepakatan itu berupa janji untuk berjuang di jalan Allah demi tegaknya agama Islam, mempersatukan umat, dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Momen ini penting karena menunjukkan bahwa KH Hasyim Asy’ari sudah berpikir transnasional jauh sebelum Indonesia merdeka. Ia bukan hanya ulama pesantren, tetapi juga diplomat ulama yang jaringan dan wawasannya melampaui batas Hindia Belanda. Itulah sebabnya ia disebut bukan sekadar tokoh nasional, melainkan tokoh dunia.
Sikap Politik Antara Negara Islam dan Islam Bernegara, Sepulang ke tanah air, KH Hasyim Asy’ari menghadapi dinamika politik yang kompleks. Pada masa perumusan dasar negara 1945, muncul usulan menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Sikap beliau jelas: menolak. Menurutnya, negara Islam formal akan sulit bernegara dan berpotensi memecah belah umat yang majemuk. Sebaliknya, ia mendorong konsep “Islam bernegara”, di mana nilai-nilai Islam dihidupkan dalam kerangka negara kebangsaan yang melindungi semua warga. Sikap ini menjadi landasan NU masuk dalam merumuskan Pancasila dan NKRI sebagai konsensus nasional. Sikap moderat itu juga terlihat dalam pandangannya tentang ijtihad dan taqlid. Ia menegaskan bahwa ijtihad hanya boleh dilakukan oleh ulama yang memiliki kapasitas keilmuan memadai. Bagi umat awam, taqlid kepada salah satu dari empat mazhab Sunni adalah jalan yang lebih selamat untuk menjaga kesatuan umat.
Resolusi Jihad dan Perlawanan terhadap Jepang, Ketika Jepang menduduki Indonesia, KH Hasyim Asy’ari tidak tinggal diam. Ia menolak perintah seikeirei, yaitu penghormatan dengan membungkuk ke arah matahari yang dianggap bertentangan dengan akidah Islam. Pada 22 Oktober 1945, ia mengeluarkan fatwa yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. Fatwa itu menyatakan bahwa membela tanah air dari penjajahan adalah kewajiban agama bagi setiap Muslim. Resolusi ini memantik perlawanan rakyat, terutama di Surabaya, dan menjadi dasar pertempuran heroik 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Dalam perjuangan itu, tradisi spiritual pesantren tidak ditinggalkan. Santri yang bergerak ke medan tempur tetap bertawasul dan membaca Shalawat Badar. “Disamping beliau tidak pernah luput dengan tawasul shalawat Badar selama berjuang melawan penjajah,” ungkap KH Agus Salim. Bagi NU, perjuangan fisik dan spiritual adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan.
Sanad Keilmuan dan Karakter Gerakan Islam Indonesia, Kisah KH Hasyim Asy’ari tidak bisa dilepaskan dari jaringan keilmuan pesantren. Ia memiliki sanad yang sama dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, kepada KH Kholil Bangkalan dan Syeikh Nawawi al-Bantani. Persamaan sanad ini menunjukkan bahwa akar keilmuan NU dan Muhammadiyah sebenarnya sama. Perbedaannya terletak pada metode dakwah. NU memilih pendekatan kultural di pedesaan melalui majelis, tahlil, dan pesantren. Muhammadiyah lebih memilih pendekatan struktural di perkotaan melalui sekolah, rumah sakit, dan organisasi modern. “NU amal dulu baru belajar, Muhammadiyah belajar dulu baru mengamalkan. Keduanya benar sehingga memberikan dampak pergerakan yang disebut ormas Islam dengan ciri khas masing-masing” jelas KH Agus Salim. Dua karakter ini saling melengkapi. NU menjaga basis massa akar rumput dan tradisi keagamaan masyarakat, sementara Muhammadiyah membangun institusi pendidikan dan kesehatan modern. Bersama-sama, keduanya menjadi pilar dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin di Indonesia. Kisah “Jawa Bagar” di Mekkah adalah cerminan perjalanan panjang Islam di Indonesia. Dari posisi yang dipandang sebelah mata, ulama Nusantara mampu berdiri sejajar dengan ulama dunia karena ilmu, adab, dan komitmen kebangsaan. KH Hasyim Asy’ari membuktikan bahwa tradisi lokal tidak menghalangi pengakuan global. Hari ini tantangan berubah dengan Santri tidak lagi hanya berhadapan dengan kolonialisme fisik tetapi dengan disinformasi, radikalisme, dan krisis identitas di ruang digital. Semangat yang ditunjukkan KH Hasyim Asy’ari mengharumkan nama bangsa dengan bukti, bukan sekadar omongan tetap relevan.
Wawancara KH. Agus Salim Pendiri Yayasan Agus Salim Central Education
Generasi muda NU dan Muhammadiyah dapat melanjutkan estafet itu. Menjaga sanad keilmuan, menguatkan moderasi, dan membangun Indonesia dengan karakter yang berakar pada pesantren tetapi terbuka pada kemajuan zaman. Jika itu terwujud, maka nama Nusantara akan kembali harum di pentas dunia, sebagaimana dulu ketika seorang kiai dari Jombang dipanggil “Jawa Bagar” dan menjawabnya dengan ilmu serta perjuangan.
Deden Alhikmatullahさんをフォローして最新の投稿をチェックしよう!
