Kita hidup di zaman serba digital namun basa-basi kesehatan tidak kunjung selesai, tapi urusan rokok, Indonesia masih seperti berjalan di tempat. Di satu sisi, kita update tentang tren kesehatan, gym, dan makanan organik. Di sisi lain, prevalensi perokok, terutama di kalangan anak muda (seperti kita), semakin tinggi. Rokok bukan lagi cuma hisapan santai, tapi masalah besar yang menumpuk dan siap meledak.
Opini ini menyoroti satu hal yaitu sudah basi kalau hanya sekedar peringatan bergambar. Pemerintah harus pindah gigi, dari sekadar warning ke perlindungan yang dipaksakan, karena selama ini regulasi kita selalu kalah cepat terhadap strategi marketing industri tembakau.
Korban Ganda ancaman di sekitar kita, bahaya rokok konvensional yang mengandung racun sudah menjadi pengetahuan umum. Data dari Kemenkes menunjukkan PTM (Penyakit Tidak Menular) akibat rokok jadi penyebab utama orang meninggal. Itu semua sudah biasa. Ironisnya dampak yang paling terasa adalah efek gandanya, seperti: Korban pasif yaitu menjadi korban nomor satu, terutama jika terdapat anak-anak kecil di rumah. Karena Kawasan Tanpa Rokok (KTR) biasanya hanya ada kantor atau mall, tapi jika di rumah, anak-anak tidak mempunyai pilihan selain menghirup asap sisa rokok dari keluarganya. Ini adalah kegagalan kolektif kita dalam melindungi mereka yang paling lemah.
Perokok di Indonesia didominasi oleh laki-laki yang tidak terlepas dari pandangan sosial masyarakat yang memaknai bahwa rokok adalah simbol maskunilitas seperti kedewasaan dan kejantanan. Pandangan ini membuat kebiasaan merokok adalah hal wajar untuk dilakukan, meskipun berbagai data kesehatan seperti data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa perokok di Indonesia didominasi oleh laki-laki dan menunjukkan dampak yang serius seperti penyakit tidak menular dan efeknya bagi orang sekitar. Hal tersebut menunjukkan bahwa simbol rokok sebagai lambang kedewasaan hanya pandangan yang justru merugikan diri sendiri dan orang sekitar.
Lalu munculnya rokok elektrik alias vape seolah menjadi solusi keren, faktanya justru produk ini berfungsi sebagai mekanisme bagi industri untuk memicu inisiasi dan ketergantungan nikotin pada populasi muda yang belum pernah mengonsumsi tembakau. Studi dari lembaga riset independen sudah membuktikan bahwa vape itu bukan jalan keluar, tapi justru jebakan baru yang membuat generasi baru ketergantungan nikotin.
Solusi
Jika benar-benar ingin mengubah keadaan, kita tidak bisa hanya berdiam diri. Kita butuh intervensi kebijakan yang berani dan tegas, contohnya seperti
• Membuat harga rokok semakin naik.
Ini cara paling cepat dan efektif. Riset-riset global seperti (WHO) sudah membuktikan, kalau harga rokok dinaikkan otomatis anak muda dan masyarakat ekonomi lemah akan berpikir seribu kali untuk membeli rokok. Buat rokok menjadi barang premium yang tidak worth it dibeli
• Blokir total iklan rokok.
Iklan rokok dapat menyamar lewat sponsorship acara-acara, influencer, atau di media sosial. Pemerintah harus menghapus total visibilitas tembakau di manapun, termasuk di internet. Sehingga tidak ada lagi celah untuk branding rokok seolah rokok itu trend.
• Edukasi yang berbasis keterampilan hidup.
Program edukasi harus diubah fokusnya dari sekadar menakut-nakuti menjadi pelatihan keterampilan hidup (life skills). Tujuannya adalah membekali remaja agar mampu mengambil keputusan mandiri, menolak tekanan sosial, dan membangun pertahanan diri yang kuat terhadap godaan nikotin.
Penutup waktunya kita ambil sikap
Masalah rokok adalah ujian serius seberapa besar komitmen negara kita dengan masa depan rakyatnya. Selama aturannya masih setengah-setengah dan membiarkan produk mematikan ini mudah dijangkau. Kita akan terus melihat korban berjatuhan.
Kesehatan itu harga mati. Inisiatif harus datang dari sekarang, dari keberanian regulator untuk mengutamakan paru-paru sehat di atas kepentingan industri. Kita harus putuskan rantai kecanduan ini demi paru-paru yang sehat dan kualitas hidup yang baik bagi masyarakat indonesia.
0 件のコメント
この投稿にコメントしよう!
この投稿にはまだコメントがありません。
ぜひあなたの声を聞かせてください。
